PEMIKIRAN AL-KINDI
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...................................................................................................... i
DAFTAR ISI..................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang............................................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah......................................................................................................... 2
C.
Tujuan Penulisan........................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Biografi
al-Khindi ....................................................................................................... 3
B.
Pokok-Pokok
Pemikiran Filsafat al-Khindi.................................................................. 9
BAB III PENUTUP
Kesimpulan dan Saran......................................................................................................... 16
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.
LATAR BELAKANG
Filsafat merupakan bagian dari hasil berfikir
di dalam mencari hakikat segala sesuatu secara sistematis, radikal, dan
universal. Sedangkan filsafat Islam adalah hasil pemikiran filosof tentang
ketuhanan, kenabian, manusia, dan alam yang didasari ajaran Islam dalam suatu
pemikiran yang logis, sistematis dan riel yang pokok-pokok pemikirannya
dikemukakan oleh para filosof Islam.
Ada beberapa filosof muslim yang sangat
terkenal dan ajarannya masih kita pelajari hingga hari ini, salah satu di
antaranya adalah al-Kindi, Ibnu Sina, al-Farabi, Ibnu Rusyd, al-Ghazali, dll.
Karena para filosof inilah kita mengenal filsafat Islam, karena mereka pula
filsafat Islam dikembangkan.
Di antara lima filosof tersebut makalah ini
hanya akan menjelaskan pemikiran dan biografi al-Kindi secara lebih terperinci,
karena filosof yang nama aslinya adalah Abu
Yusuf Ya`qub ibn Ishaq ibn Shabbah ibn Imran ibn Isma`il ibn Muhammad ibn
al-Asy’ath ibn Qais al-Kindi ini merupakan dasar atau filosof muslim pertama.
2.
RUMUSAN MASALAH
a.
Bagaimana Biografi al-Khindi?
b.
Bagaimana Pokok-Pokok Pemikiran Filsafat al-Khindi?
3.
TUJUAN PENULISAN
a.
Mengetahui dan Memahami Biografi al-Khindi
b.
Mengetahui dan Memahami Pokok-Pokok Pemikiran Filsafat al-Khindi?
BAB II
PEMBAHASAN
1.
BIOGRAFI AL-KHINDI
Al-Kindi
bin Ishaq memiliki nama lengkap Abdul Yusuf Ya’qub bin Ishaq bin Ash-Shabah bin
‘Imran bin Isma’il bin Muhammad bin al-Asy’ats bin Qais al-Kindi. Al-Kindi
dilahirkan di Kufah sekitar tahun 185 H (801 M) dari keluarga kaya dan
terhormat. Beliau berasal dari kabilah Kindah, termasuk kabilah terpandang di
kalangan masyarakat Arab yang bermukim di daerah Yaman dan Hijaz. . Kakek
buyutnya al-Asy’as bin Qais adalah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang gugur
sebagai syuhada’ bersama Sa’ad bin Abi Waqqas dalam peperangan antara kaum
Muslimin dengan Persia di Irak. Sementara itu ayahnya, Ishaq bin Shabbah,
adalah gubernur Kufah pada masa pemerintahan al-Mahdi (775-785 M) dan ar-Rasyid
(786-809 M).
Setelah
dewasa al-Kindi pergi ke Baghdad dan mendapat kedudukan yang tinggi dari al-
Ma’mun (813-833 H) dan al-Mu’tasim (833-842 H). Al-Kindi kemudian belajar
filsafat dan menekuni bidang ilmu astronomi, ilmu ukur, ilmu alam astrologi,
ilmu pasti, ilmu seni musik, meteorologi, optika, kedokteran, politik dan
matematika. Penguasaanya terhadap Filsafat dan disiplin ilmu lainnya menempatkan
beliau menjadi orang Islam pertama yang berkebangsaan Arab dalam jajaran para
filosof terkemuka. Karena itu pula beliau dinilai pantas dalam menyadang
gelar Failasuf al-‘Arab (filosof berkebangsaan Arab).
Al-Kindi
hidup pada masa penerjemahan besar-besaran karya-karya Yunani ke dalam bahasa
Arab. Sejak didirikannya Bait al-Hikmah oleh al-Ma’mun, al-Kindi sendiri turut
aktif dalam kegiatan penerjemahan ini. Di samping menerjemah, al-Kindi juga
memperbaiki terjemahan-terjemahan sebelumnya. Karena keahlian dan keluasan
pandangannya ia diangkat sebagai ahli di istana dan menjadi guru putra Khalifah
al-Mu’tasim.
Menurut
Mustafa ‘Abd Al-Raziq, al-Khindi wafat tahun 252 H, sedangkan Massingon
menunjuk tahun 260 H, suatu pendapat yang diyakini oleh Hendry Corbin dan
Nellino. Sementara itu, Yaqut Al-Himawi mengatakan bahwa Al-Kindi wafat saat
beliau berusia 80 tahun.
Al-Kindi
mengarang buku-buku yang jumlah karanganyya sukar ditentukan, karena dua sebab.
Pertama, penulis-penulis biografi tidak sepakat penuturannya tentang jumlah
karangannya tersebut. Menurut ibn al-Nadim dan al-Qafthi karangannya berjumlah
238 risalah (karangan pendek). Menurut Sha’id al-Andalusi berjumlah 50 buah,
sedang sebagian dari karangan-karangan tersebut telah hilang musnah. Kedua,
karangan-karangannya yang sampai kepada kita ada yang memuat karangan-karangannya
yang lain.[1]
Isi
karangan-karangan tersebut bermacam-macam, antara lain filsafat, logika,
matematika, musik, ilmu jiwa dan lain sebagainya. Corak filsafat al-Kindi tidak
banyak yang diketahuinya karena buku-buku tentang filsafat banyak yang hilang. Namun,
pada umumnya karangan-karangan al-Khindi ringkas dan tidak mendalam. Al-Khindi
tidak banyak membicarakan persoalan-persoalan filsafat yang rumit dan yang
telah dibahas sebelumnya, akan tetapi beliau lebih tertarik dengan
definisi-definisi dan penjelasan ketelitian pemakaian kata-kata daripada
problema-problema filsafat.
Pada
zaman sekarang ini seorang ahli ketimuran Jerman, Hillmuth Ritter menemukan
kurang lebih 29 risalah al-Kindi dalam
tulisan tangan di perpustakaan Aya Sofia, Istambul. Risalah tersebut membahas
tentang alam dan filsafat, antara lain Ke-Esaan Tuhan, akal, dll. Risalah
tersebut telah diterbitkan di Mesir oleh M. Abdul-hadi Aburaidah.
Unsur-unsur
filsafat dalam pemikiran al-Khindi ialah:
1.
Aliran
Pitagoras, tentang matematika sebagai jalan kea rah filsafat
2.
Pikiran-pikran
Aristotels dalam soal-soal fisika dan metafisika, meskipun al-Khindi tidak
sependapat dengan Aristoteles tentang qadimnya alam.
3.
Pikiran-pikiran
Plato dalam soal kejiwaan.
4.
Pikirna-pikiran
Plato dan Aristo bersama-sama dalam soal etika.
5.
Wahyu dan iman
(ajaran-ajaran agama) dalam soal-soal yang berhubungan dengan Tuhan dan
sifat-sifat-Nya.
6.
Aliran
Mu’tazilah dalam memuja kekuatan akal manusia dan dalam mena’wilkan ayat-ayat
al-Qur’an.[2]
Beberapa contoh karya tulis al-Kindi antara
lain :
1.
Kitab al-Kindi
ila al-Mu’tashim Billah fi al-Falsafah al-Ula (tentang filsafat pertama);
2.
Kitab
al-Falsafah al-Dakhilat wa al-Masa’il al-Manthiqiyyah wa al-Muqtashah wa ma
Fawqa al-Thabi’iyyah (tentang filsafat yang diperkenalkan dan masalah-masalah
logika dan muskil serta metafisika);
3.
Kitab fi Annahu
la Tanalu al-Falsafah illa bi ‘Ilmi al-Riyadliyyah (tentang filsafat tidak
dapat dicapai kecuali dengan ilmu pengetahuan dan matematika);
4.
Kitab fi Qashd
Aristhathalis fi al-Maqulat (tentang maksud Aristoteles dalam
kategori-kategorinya);
5.
Kitab fi
Ma’iyyah al-‘Ilm wa Aqsamihi (tentang ilmu pengetahuan dan klasifikasinya);
6.
Risalah fi
Hudud al-Asyya’ wa Rusumiha (tentang definisi benda-benda dan uraiannya);
7.
Risalah fi
Annahu Jawahir la Ajsam (tentang substansi-substansi tanpa badan);
8.
Kitab fi Ibarah
al-Jawami’ al-Fikriyah (tentang ungkapan-ungkapan mengenai ide-ide
komprehensif);
9.
Risalah
al-Hikmiyah fi Asrar al_ruhaniyah ( sebuah tulisan filosofis tentang rahasia
spiritual);
10.
Risalah fi
al-Ibanah ‘an al-‘Illat al-Fa’ilat al-Qaribah li al-Kawn wa al-Fasad (tentang
penjelasan mengenai sebab dekat yang aktif terhadap alam kerusakan).
Beberapa karya tulis al-Kindi telah
diterjemahkan oleh Gerard Cremona ke dalam bahasa Latin, yang sangat
mempengaruhi pemikiran Eropa pada abad pertengahan. Oleh karena itu, William Kardiano
menganggap al-Kindi sebagai salah seorang dari dua belas pemikir terhebat. [3]
Buah pikiran al-Khindi tidak hanya berkembang
di dunia Islam, tetapi juga mempengaruhi dunia barat. Di antara ialah Roger
Bacon yang mengatakan bahwa al-Khindi adalah suatu bintang yang bercahaya di
lapangan ilmu pengetahuan di abad tengah.[4]
2.
POKOK-POKOK PEMIKIRAN FILSAFAT AL-KHINDI
Dalam
risalahnya al-Khindi mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu yang termulia serta
terbaik dan yang tidak bisa ditinggalkan oleh setiap orang yang berpikir.
Al-Khindi meninjau filsafat dari dalam dan luar. Dari dalam, beliau bermaksud
mengikuti pendapat filosof-filosof besar tentang arti kata filsafat yang
kebanyakan bercorak Platoniseme. Dari luar, beliau bermaksud memberikan sendiri
definisi filsafat.
Menurut
al-Khindi, antara agama dan filsafat tidaklah bertentangan, karena
masing-masing dari keduanya itu adalah ilmu tentang hakekat (kebenaran), karena
ilmu filsafat membahas tentang ke-Tuhanan, keesaan-Nya (wahdaniyyah), ilmu keutamaan
(fadlillah), ilmu semua yang bermanfaat bagi manusia dan cara memperolehnya,
serta cara menjauhi perkara-perkara yang merugikan. Hal seperti ini juga dibawa
oleh para rasul Allah yang mereka juga menetapkan ke-Esaan Allah dan
mengajarkan sesuatu yang bermanfaat bagi manusia. Jadi tujuan seorang filosof
bersifat teori, yaitu mengetahui kebenaran, dan bersifat amalan, yaitu
mewujudkan kebenaran tersebut dalam tindakan. Semakin dekat kepada kebenaran
semakin dekat pula kepada kesempurnaan. [5]
Pada dasarnya Al-Kindi menyadari bahwa banyak dari
kalangan umat Islam yang menentang terhadap filsafat yang berasal dari
peradaban Yunani, karena itulah ia berusaha memperkenalkan filsafat ke dalam
dunia Islam dan menantang kepada siapapun yang tidak senang terhadap filsafat.
Menurutnya, jika ada yang orang yang mengatakan bahwa filsafat itu tidak
diperlukan, mereka harus memberikan argumen dan menjelaskannya. Usaha
mengemukakan argumen tersebut, sejatinya bagian dari pencarian pengetahuan
tentang hakikat sesuatu. Untuk sampai pada yang dimaksud, secara logika, mereka
perlu memiliki pengetahuan filsafat. Jadi filsafat itu harus dimiliki dan
dipelajari.
Pokok-pokok pemikiran filsafat al-Khindi dalam
berbagai aspek antara lain:
1.
Pemaduan
Filsafat dan Agama (Talfiq)
Al-Kindi adalah orang Islam yang pertama
yang mengupayakan pemaduan (talfiq) antara Filsafat dan agama atau antara akal
dan wahyu. Menurutya
filsafat adalah pengetahuan yang benar (knowledge of truth). Al-Qur’an
yang membawa argumen-argumen yang lebih meyakinkan dan benar tidak mungkin
bertentangan dengan kebenaran yang dihasilkan oleh filsafat. Karena itu
mempelajari filsafat dan berfilsafat tidak dilarang bahkan teologi bagian dari
filsafat, sedangkan umat Islam diwajibkan mempelajari teologi. Bertemunya agama
dan filsafat dalam kebenaran dan kebaikan sekaligus menjadi tujuan dari
keduanya.
Menurutnya antara keduanya tidak bertentangan
karena masing-masing keduanya adalah ilmu tentang kebenaran. Sedangkan
kebenaran itu satu tidak banyak. Ilmu Filsafat meliputi ketuhanan, keesan-Nya,
dan keutamaan serta ilmu-ilmu lain yang mengajarkan bagaimana jalan memperoleh
apa-apa yang bermanfaat dan menjauhkan dari apa-apa yang mudarat. Hal seperti
ini juga dibawa oleh para rasul Allah dan juga mereka menetapkan keesaan Allah
dan memastikan keutamaan yang diridhai-Nya.
Agaknya untuk memuskan semua pihak, terutama
orang-orang Islam yang tidak senang dengan filsafat, dalam usaha pemanduannya
ini, al-Kindi juga membawakan ayat-ayat Al-Quran. Menurutnya menerima dam
mempelajari filsafat sejalan dengan anjuran Al-Quran yang memerintahkan pemeluknya
untuk meneliti dan membahas segala fenomena di alam semesta ini.[6]
2. Falsafat
Ketuhanan
Menurut
Al-Kindi filsafat yang paling tinggi ialah filsafat tentang Tuhan. Tuhan dalam falsafat al-Kindi tidak mempunyai hakikat dalam
arti aniah dan mahiah. Tidak aniah karena tidak termasuk yang ada dalam alam,
bahkan Ia adalah Pencipta alam. Ia tidak tersusun dari materi dan bentuk. Tuhan
juga tidak mahiah karena Tuhan tidak merupakan genus dan spesies. Tuhan adalah
Yang Benar Pertama (Al-Haqqul Awwal) dan Yang Benar Tunggal (Al-Haqqul Wahid).
Sesuai
dengan faham yang ada dalam Islam, Tuhan bagi al-Kindi adalah Pencipta dan
bukan Penggerak Pertama sebagai pendapat Aristoteles. Alam bagi al-Kindi bukan
kekal di zaman lampau tetapi punya permulaan. Karena itulah ia lebih dekat
dalam hal ini pada falsafat Plotinus yang mengatakan bahwa Yang Maha Satu
adalah sumber dari alam ini dan sumber dari segala yang ada. Alam ini adalah
emanasi dari Yang Maha Satu.[7]
3. Filsafat
Jiwa
Al-Quran
dan Hadits Nabi Muhammad Saw. tidak menjelaskan tegas tentang roh dan jiwa.
Bahkan Al-Quran sebagai pokok sumber ajaran Islam menginformasikan bahwa
manusia tidak akan mengetahui hakikat ruh karena itu urusan Allah bukan
Manusia. Dengan adanya hal tersebut, kaum filosof Muslim membahas jiwa
berdasarkan pada falsafat jiwa yang dikemukakan para filosof Yunani,
kemudian mereka selaraskan dengan ajaran Islam.
Al-Kindi
juga mengatakan bahwa jiwa adalah tunggal, tidak tersusun, tidak panjang, dalam
dan lebar. Jiwa mempunyai arti penting , sempurna, dan mulia. Subtansinya
berasal dari subtansi Allah. Hubungannya dengan Allah sama dengan hubungannya
dengan cahaya dan matahari. Jiwa mempunyai wujud tersendiri, terpisah, dan
berbeda dengan jasad atau badan. Jiwa bersifat rohani dan illahi sementara
badan mempunyai hawa nafsu dan marah. Dan perbedaannya jiwa menentang keinginan
hawa nafsu.
Pada
jiwa manusia terdapat tiga daya: daya bernafsu (yang terdapat di perut), daya marah
(terdapat di dada), dan daya pikir (berputar pada kepala).[8]
4. Akal
Dalam
jiwa manusia terdapat tiga daya yang telah disebutkan diatas salah satunya
ialah daya berpikir. Daya berpikir itu adalah akal. Menurut al-Kindi akal
dibagi menjadi tiga macam: akal yang bersifat potensil; akal yang keluar dari
sifat potensil dan aktuil; dan akal yang telah mencapai tingkat kedua dari
aktualitas.
Akal
yang bersifat potensil tidak bisa mempunyai sifat aktuil jika tidak ada
kekuatan yang menggerakannya dari luar. Dan oleh karena itu bagi al-Kindi ada
satu lagi macam akal yang mempunyai wujud di luar roh manusia, dan bernama akal
yang selamanya dalam aktualitas. Akal tersebut membuat akal yang bersifat
potensil dalam roh manusia menjadi aktuil. Sifat-sifat akal ini:
a. Merupakan
akal pertama
b. Selamanya
dalam aktualitas
c. Merupakan
spesies dan genus
d. Membuat
akal potensil menjadi aktuil berpikir
e. Tidak
sama dengan akal potensil tetapi lain dari padanya[9]
5. Filsafat Fisika
Al-Kindi mengatakan bahwa alam ini ada illatnya yang jauh dan yang
menjadkannya yaitu Allah. Karena itu alam asalnya tidak ada, kemudian menjadi ada karena diciptakan oleh
Tuhan sehingga beliau tidak dapat membenarkan qadimnya alam.
Al-Kindi mengatakan benda-benda langit memiliki kehidupan, indrap
penglhatan dan indra pendengaran untuk dapat berfikir dan membedakan. Oleh
karena iitu benda-benda langit enjadi sebab terdekat kejadian dan kemusnahan
alam ini maka kehidupan di bumi menjadi tergantung kepadanya. Benda-benda
langit itulah yang menimbulkan kehidupan di bumi sbagai akibat geraknya yang
abadi di bumi menurut arah tertentu, seperti rotasi, revolusi, gerak tombak
atau gerak surut, gerak esensi dalam bentuk kejadian dan kemusnahaan. Dengan
demikian dapat dirasakan keagungan dan kekuasaan Tuhan.
7.
metafisika
a.
Hakikat Tuhan
Tuhan adalah
wujud yang hak atau benar, yang bukan asalnya tidak ada kemudian menjadi ada,
Tuhan selalu mustahil tidak ada, selalu ada dan akan selalu ada karenanya Tuhan
adalah wujud sempurna yang tidak didahului oleh wujud lain, dan tidak berakhir
wujudnya, dan tidak akan ada wujud kecuali dengannya.
b.
Bukti-bukti wujud Tuhan
·
Baharunya Alam
alam ini baru dan ada permulaan
waktunya karena alam ini terbatas dan diciptakan oleh penciptanya dari tiada.
·
Keaneka Ragaman Dalam Wujud
Tidak mungkin ada keaneka ragaman tanpa
keseragaman, atau ada keseragaman tanpa keeneka ragaman. Kalau alam inderawi
tergabung dalam alam keanekaragaman dan keseragaman bersama-sama maka hal ini
bukan suatu kebetulan, melainkan ada sebab.
·
Kerapian Alam
Alam lahir tidak mungkin rapi dan
teratur karena ada Zat yang tidak nampak. Jalan ini tekenal dengan nama illat tujuan
(illat ghaiyyah).
c.
Sifat-sifat Tuhan
Di antara sifat Tuhan adalah ke-Esaan,
suatu sifat yang paling has bagiNya. Tuhan itu satu ZatNya dan satu dalam
hitungan karena itu pula sifat Tuhan ialah yang Maha Tahu, Yang Maha Berkuasa,
dan bersifat Adzali. Oleh karena itu Tuhan adalah sebab pertama dimana wujudnya
bukan karena sebab yang lain. Tuhan adalah Zat yang mencipakan tetapi bukan di
ciptaka; Tuhan adalah at yang mencempurakan tetapi bukan disempurnakan.[10]
8.
Roh
Menurut al-Kindi roh merupakan substansi yang berasal
dari Tuhan yang mulia dan sempurna. Oleh sebab itu al-Kindi menganjurkan agar
hidup zuhud agar roh menjadi suci yang akan membuka tabir antara insan dengan
Tuhan dan mudah menangkan ilmu pengetahuan. Bagi al0Kindi jiwa yang menjadi
wujud sederhana yang menjadi rahani ada tiga kekuatan yaitu
1.
Kekuatan akal (al-quatul aqilah)
Kekuatan akal terdiri dari empat bentuk
a.
Akal yang berada di luar roh, bersifat
ilahi dan selalu aktif
b.
Akal yang bersifat potensial, selalu
siap menerima aktualitas
c.
Akal yang mendapat konsep abstrak dan
univesal sehingga dapat peluang dari sifat potensial keaktual
d.
Akal yang aktualitasnya telah melampaui
dirinya sendiri kepada yang lain, bila akal pertama telah bergerak, bergeraklah
akal berikutnya.
2.
Kekuatan moral (al-quatul ghadhab)
3.
Kekuatan nafsu (al-quatusi syahwaniyah).
9.
Kenabian
Menurut al-Kindi nabi memiliki derajat pengetahuan yang
tertinggi bagi manusia. Hanya nabi yang bisa mecapai pengetahuan yang sempurna
tentang alam ghaib dan ketuhanan melalui wahyu. Yang mana kesempurnaan itu
tidak mungkin dicapaioleh manusia biasa.[11]
DAFTAR PUSTAKA
Al-Ahwani, Ahmad Fuad. Filsafat
Islam. Jakarta: Pustaka Firdausi. 1995.
Ali, Yunasril. Perkembangan
Pemikiran Falsafi Dalam Islam, Jambi: IAIN Sulthan Thaha. 1990.
Hanafi, Ahmad. Pengantar Filsafat Islam. Jakarta : Bulan
Bintang, 1967.
Nasution, Harun. Falsafat dan
Mistisisme dalam Islam. Jakarta: NV. Bulan Bintang. 1978.
Zarmi, Sirajuddin. Filsafat
Islam: Filosof dan Filsafatnya. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 2004.
[2] A. Hanafi M.A, Pengantar Filsafat Islam, op.cit, hlm.
108
[4] Yunasril Ali, Perkembangan Pemikiran Falsafi Dalam Islam,
(Jambi: IAIN Sulthan Thaha, 1990), hlm. 29
[6] H. Sirajuddin Zarmi, Filsafat
Islam: Filosof dan Filsafatnya, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004),
hlm. 44-47
[7] Harun Nasution, Falsafat dan
Mistisisme dalam Islam, (Jakarta: NV. Bulan Bintang, 1978), hlm. 16
Komentar