SEJARAH KELAHIRAN TASAWUF

BAB II
PEMBAHASAN

1.      PENGERTIAN TASAWUF
Menurut Bahasa Tasawuf adalah sebutan untuk mistisisme Islam. Dalam pandangan etimologi, kata sufi mempunyai pengertian yang berbeda. Ada teori yang mengatakan bahwa kata sufi berasal dari bahasa Arab yaitu suf, yang berati wol. Pengertian ini merujuk kepada jubah dari wol sederhana yang dikenakan oleh para pelakunya. Teori etimologis lain menyatakan bahwa kata sufi berasal dari kata bahasa Arab yaitu safa, yang berarti kemurnian, kesucian yakni penekanan pelakunya pada kemurnian hati dan jiwa. Teori lain menyatakan bahwa etimologi dari sufi berasal dari ashab al suffa atau ahl al suffa yang dinisbahkan pada sekelompok muslim pada zaman Nabi yang menghabiskan waktu da Masjid Madinah yang menempati beranda masjid dan mendedikasikan wkatunya untuk berdoa.
Berdasarkan pengertian etimologi di atas tasawuf berarti orang-orang yang tertarik kepada pengetahuan batin, oraang-orang yang tertarik untuk menemukan suatu jalan atau praktik ke arah kesadaran dan pencarahan hati.

Menurut Istilah, Imam Junaidi dari Baghdad (w.910) mendefinisikan Tasawuf sebagai mengambil setiap sifat mulia dan meninggalkan setiap sifat rendah. Atau keluar dari budi perangai yang tercela dan masuk kepada budi perangai yang terpuji. Syekh Abul Hasan Asysyadzili (w.1258), syekh sufi besar dari Afrika Utara, mendefinisikan tasawuf sebagai praktik dan latihan diri melalui cinta yang dalam dan ibadah ubtuk mengenbalikan diri kepada jalan Tuhan. Sedangkan menurut Ibn Khaldun, tasawuf adalah semacam ilmu syariyah yang timbul kemudian dalam Agama. Asalnya rtekun beribadah dan memutuskan dengan segala selain Allah SWT, hanya menghadap kepada Allah SWT semata. Menolak hiasa-hiasan dunia, serta membenci perkara-perkara yang selalu memperdaya orang banyak, kelezatan harta-benda, dan kemegahan. Dan menyendiri menuju jalan tuhan dalam khalwat dan ibadah.
Syekh Ahmad Zorruq (w.1494) dari Maroko mendefinisikan tasawuf sebagai ilmu yang dengannya anda dapat memperbaiki hati dan menjadikanya semata-mata bagi Allah SWT, dengan menggunakan pengetahuan Anda tentang jalan Islam, khususnya fiqih dan pengetahuan yang berkaitan, untuk memperbaiki amal Anda dan menjaganya dalam batas-batas syariat Islam agar kebijaksanaan menjadi nyata.

Menurut Syekh Ibn Ajiba (w.1809), tasawuf sebagai suatu ilmu yang dengannya Anda belajar bagaimana berprilaku supaya berada dalam kehadiran Tuhan yang Maha ada melalui penyucian batin dan mempermanisnya dengan amal baik. Syekh Asy Suyuthi mendefinisikan, Sufi sebagai orang yang bersiteguh dalam kesucian kepada Allah SWT, dan berakhlak baik kepada makhluk.
Dari definisi tentang tasawuf di atas, jika diperhatikan dan dipahami secara utuh, maka akan tampak selain berorientasi spiritual, tasawuf juga berorientasi moral. Dan dapat disimpulkan pula, bahwa basis tasawuf ialah penyucian hati dan penjagaanya dari setiap cedera, dan bahwa produk akhirnya ialah hubungan yang benar dan harmonis antara manusia dan Allah SWT.
Jadi, sufi adalah orang yang telah dimampukan Allah SWT untuk menyukan hati dan menegakkan hubunganya dengan Dia dan ciptaan-Nya dengan melangkah pada jalan yang benar, sebagaimana dicontohkan dengan sebaik-baiknya oleh Nabi Muhammad SAW.

2.      SEJARAH KELAHIRAN TASAWUF
Awal mula timbulnya paham Tasawuf banyak pendapat yang pro dan kontra mengenai asal-usul kelahiran ajaran tasawuf. Baik dari segi pertama munculnya tasawuf darimana ataupun dari segi historis, apakah ia berasal dari luar atau dari dalam agama islam sendiri. Berbagai sumber mengatakan bahwa ilmu tasauf sangat lah membingungkan.
Munculnya tasawuf ada perbedaan pendapat dari ulama, ada yang mengatakan Tasawuf munculnya dari Kuffah dan ada juga yang mengatakan Tasawuf muncul dari Basrah
Ø  Tasawuf muncul dari Kuffah
Sebagian peneliti mengatakan bahwa kata Tasawuf pertama kali muncul di Kufah, sebabnya adalah karena masyarakat Kufah sangat terpengaruh oleh besarnya gelombang zuhud yang mereka lakukan sebagai sikap penentang terhadap dinasti umawiyah, sehingga mereka menanggalkan pakaian penentangan mereka dan mengenakan pakaian zuhud dan ruban.
Ø  Tasawuf muncul dari Basrah
Sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa tasawuf pertama kali muncul di Basrah. Karena di Basrah banyak terjadi tindakan berlebih-lebihan didalam melakukan zuhud, ibadah, dan menunjukkan rasa takut kepada Allah SWT yang tidak terdapat di negeri-negeri lain.





Dan berikut adalah salah satu  perbedaan pendapat lahirnya Tasawuf dari segi historis.
Ø  Berikut adalah salah satu pendapat yang mengatakan bahwa Tasawuf berasal dari luar Islam
Karena tasawuf timbul dalam Islam sesudah uamat Islam mempunyai kontak dengan agama Kristen, filsafat Yunani dan agama Hindu dan Budha, muncullah anggapan bahwa aliran tasawuf lahir dalam Islam atas pengaruh dari luar.
Ada yang mengatakan bahwa pengaruhnya datang dari rahib-rahib Kristen yang mengasingkan diri untuk beribadat dan mendekatkan diri kepada Tuhan di gurun pasir Arabia. Tempat mereka menjadi orang yang perlu bantuan di padang yang gersang. Di siang hari, tempat mereka menjadi tempat berteduh bagi orang yang kepanasan dan dimalam hari lampu mereka menjadi petunjuk jalan bagi musafir. Rahib- rahib itu berhati baik, dan pemurah serta suka menolong. Sufi juga mengasingkan diri dari dunia ramai, walaupun untuk sementara, berhati baik, pemurah dan suka menolong.
Pengaruh filsafat Yunani dikatakan berasal dari pemikiran mistik Pythagoras. Dalam filsafatnya, roh manusia adalah suci dan berasal dari tempat suci, kemudian turun kedunia materi dan masuk kedalam tubuh manusia yang bernafsu. Roh yang pada mulanya suci itu menjadi tidak suci dan karena itu tidak dapat kembali ketempatnya semula yang suci. Untuk itu ia harus menyucikan diri dengan memusatkan perhatian pada filsafat tidak dapat kembali ke tempatnya semula yag suci. Untuk itu ia harus menyucikan diri dengan memusatkan perhatian pada filsafat serta ilmu pengetahuan dan melakuaka beberapa pantangan. Filasat sufi juga demikian. Roh yang masuk ke dalam janin kandungan ibu berasal dari rohani yang suci, tetapi kemudian dipengaruhi oleh hawa nafsu yang terdapat dalam tubuh manusia. Maka untuk bertemu dengan Tuhan Yang Maha Suci, roh yang telah kotor utu dibersihkan dulu melalui ibadat yang banyak. Hal ini sama dengan Pythagoras, dia ber[endapat bahwa roh yang masuk kedalam tubuh manusia juga kotor dan tak dapat kembali kepada Tuhan selama masih kotor. Ia akan teteap tinggal berusaha membersihkan diri melaluo reinkarnasi. Kalau sudah bersih, ia dapat mendekatkan diri kepada Tuhan sampai ketingkat bersatu bersatu dengan Dia di bumi ini.
Paham penyucian diri melalui reinkarnasi tidak terdapat dalam ajaran tasawuf. Paham itu memang bertentangan dengan ajaran Alquran, bahwa roh sesudah tubuh mati tidak akan kembali kepada kehidupan serupa dibumi. Sesudah bercerai dengan tubuh, roh pergi ke alam barzah menunggu hari perhitungan. Tetapi konsep plotinus tentang bersatunya roh dengan Tuhan di dunia ini, memang terdapat dalam tasawuf Islam.

Dari agama Budha, pengaruhnya dikatakan dari konsep Nirwana. Nirwana dapat dicapai dengan meningggalkan dunia, memasuki hidup kontemplasi dan menghancurkan diri. Ajaran menghancurkan diri untuk bersatu dengan Tuhan juga terdapat dalam Islam. Sedangkan pengaruh dari agama Hindu dikatakan datang dari ajaran bersatunya Atman dengan Brahman melalui kontemplasi dan menjauhi dunia materi. Dalam tasawuf terdapat pengalaman ittihad, yaitu persatuan roh manusia dengan roh Tuhan.
Kita perlu mencatat, agama Hindu, Budha, filsafay Yuanani dan agama Kristen datang lama sebelum Islam. Bahwa yang kemudian datang dipengaruhi oleh yang datang terdahulu adalah suatu kemungkinan. Tetapi pendat serupa ini memerlukan bukti-bukti historis. Dalam kaitan ini timbul pertanyaan: sekiranya ajaran-ajaran tersebut di atas tidak ada, tidakkah mungkin tasawuf muncul dari dalam diri Islam sendiri ?
Hakekat tasawuf kita adalah mendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam ajaran Islam, Tuahan memang sangat dekat dengan manusia. Dekatnya Tuhan kepada manusia disebutkan dalam Alquran dan Hadis. QS Al Baqarah : 186 mengatakan yang artinya, “ jika hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka Aku dekat dan menabulkan seruan orang yang memanggil jika Aku dipanggil.”
Kaum sufi mengartikan doa disini bukan berdoa, tetapi berseru, agar Tuhan mengabulkan seruannya untuk melihat Tuhan dan berada dekat kepada-Nya. Denan kata lain, ia berseru agar Tuhan membuka hijab dan menampakkan diri-Nya kepada yang berseru. Temtang dekatnya Tuhan, digambarkan oleh QS Al Baqarah : 115 berikut, “Timur dan Barat kepunyaan Tuhan, maka kemana saja kamu berpaling di situ ada wajah Tuhan.” Ayat ini mengandung arti bahwa dimana saja Tuhan dapat dijumpai. Tuhan dekat dengan sufi tak perlu lagi jauh, untuk menjumpainya. Hal yang sama dijelaskan dalam QS Qaf : 16 dan QS Al Anfal : 17.
Di sini sufi melihat persatuan manusia dengan Tuhan. Perbuatan manusia adalah perbuatan Tuhan. Bahwa Tuhan dekat bukan hanya kepada manusia, tetapi kepada makhluk lain sebagaimna dijelaskan dalam Hadis berikut, “Pada mulanya Aku adalah harta yang tersembunyi, kemudian Aku ingin dikenal. Maka kuciptakan makhluk dan melalui mereka Aku-pun dikenal.”
            Di sini terdapat paham bahwa Tuhan dan makhluk bersatu, dan bukan manusia saja yang bersatu dengan Tuhan. Kalau ayat-ayat di atas mengandung arti ittihad, persatuan manusia dengan Tuhan, hadist terakhir ini mengandung konsep wahdat al-wujud, kesatuan wujud makhluk dengan Tuhan.


Ø  Pendapat yang mengatakan bahwa Tasawuf berasal dari dalam agama Islam
Sebagian pendapat mengatakan bahwa paham tasawuf merupakan paham yang sudah berkembang sebelum Nabi Muhammad menjadi Rasulullah. Dan orang-orang Islam baru di daerah Irak dan Iran (sekitar abad 8 Masehi) yang sebelumnya merupakan orang-orang yang memeluk agama non Islam atau menganut paham-paham tertentu. Meski sudah masuk Islam, hidupnya tetap memelihara kesahajaan dan menjauhkan diri dari kemewahan dan kesenangan keduniaan. Hal ini didorong oleh kesungguhannya untuk mengamalkan ajarannya, yaitu dalam hidupannya sangat merendah-rendahkan diri dan berhina-hina diri terhadap Tuhan. Mereka selalu mengenakan pakaian yang pada waktu itu termasuk pakaian yang sangat sederhana, yaitu pakaian dari kulit domba yang masih berbulu, sampai akhirnya dikenal sebagai semacam tanda bagi penganut-penganut paham tersebut. Itulah sebabnya maka pahamnya kemudian disebut paham sufi, sufisme atau paham tasawuf. Sementara itu, orang yang penganut paham tersebut disebut orang sufi.
Sebagian pendapat lagi mengatakan bahwa asal-usul kelahiran ajaran tasawuf berasal dari zaman Nabi Muhammad SAW. Berasal dari kata "beranda" (suffa), dan pelakunya disebut dengan ahl al-suffa, seperti telah disebutkan diatas. Mereka dianggap sebagai penanam benih paham tasawuf yang berasal dari pengetahuan Nabi Muhammad.
Pendapat lain menyebutkan tasawuf muncul ketika pertikaian antar umatIslam di zaman Khalifah Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib, khususnya karena faktor politik.Pertikaian antar umat Islam karena faktor politik dan perebutan kekuasaan ini terus berlangsung dimasa khalifah-khalifah sesudah Utsman dan Ali. Munculah masyarakat yang bereaksi terhadap hal ini. Mereka menganggap bahwa politik dan kekuasaan merupakan wilayah yang kotor dan busuk. Mereka melakukan gerakan ‘uzlah, yaitu menarik diri dari hingar-bingar masalah duniawi yang seringkali menipu dan menjerumuskan. Lalu munculah gerakan tasawuf yang di pelopori oleh Hasan Al-Bashri pada abad kedua Hijriyah. Kemudian diikuti oleh figur-figur lain seperti Shafyan al-Tsauri dan Rabi’ah al-‘Adawiyah.
Pada dasarnya sejarah awal perkembangan tasawuf, sudah ada sejak zaman kehidupan Nabi saw. Hal ini dapat dilihat bagaimana peristiwa dan prilaku kehidupan Nabi saw. sebelum diangkat menjadi rasul. Beliau berhari-hari pernah berkhalwat di Gua Hira’, terutama pada bulan ramadlan. Disana Nabi saw lebih banyak berdzikir dan bertafakkur dalam rangka untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pengasingan diri Nabi saw di Gua Hira’ inilah yang merupakan acuan utama para sufi dalam melakukan khalwat. Dalam aspek lain dari sisi prikehidupan Nabi saw adalah diyakini merupakan benih-benih timbulnya tasawuf, dimana  dalam kehidupan sehari-hari Nabi saw sangatlah sederhana, zuhud tak pernah terpesona oleh kemewahan duniawi.
Hal itu di kuatkan oleh salah satu do’a Nabi saw, beliau pernah memohon yang artinya: “Wahai Allah, hidupkanlah aku dalam kemiskinan dan matikanlah aku selaku orang miskin”. (HR. al-Tirmizi, Ibn Majah, dan al-Hakim).
Setelah periode sahabat berlalu, muncul pula periode tabiin (sekitar abad ke I dan ke II H). Pada masa itu kondisi sosial-politik sudah mulai berubah darimasa sebelumnya. Konflik –konflik sosial politik yang bermula dari masa Usman bin Affan berkepanjangan sampai masa-masa sesudahnya. Konflik politik tersebut ternyata mempunyai dampak terhadap kehidupan beragama, yakni munculnya kelompok-kelompok Bani Umayyah, Syiah, Khawarij, dan Murjiah.
Pada masa kekuasaan Bani Umayyah, kehidupan politik berubah total. Dengan sistem pemerintahan monarki, khalifah-khalifah Bani Umayyah secara bebas berbuat kezaliman-kezaliman, terutama terhadap kelompok Syiah, yakni kelompok lawan politiknya yang paling gencar menentangnya. Puncak kekejaman mereka terlihat jelas pada peristiwa terbunuhnya Husein bin Ali bin Abi Thalib di Karbala. Kasus pembunuhan itu ternyata mempunyai pengaruh yang besar dalam masyarakat Islam ketika itu. Kekejaman Bani Umayyah yang tak henti-hentinya itu membuat sekelompok penduduk Kufah merasa menyesal karena mereka telah mengkhianati Husein dan memberikan dukungan kepada pihak yang melawan Husein. Mereka menyebut kelompoknya itu dengan Tawwabun (kaum Tawabin). Untuk membersihkan diri dari apa yang telah dilakukan, mereka mengisi kehidupan sepenuhnya dengan beribadah. Gerakan kaumTawabin itu dipimpin oleh Mukhtar bin Ubaid as-Saqafi yang terbunuh di Kufah pada tahun 68 H.
Disamping gejolak politik yang berkepanjangan, perubahan kondisi sosialpun terjadi.halini mempunyai pengaruh yang besar dalam pertumbuhan kehidupan beragama masyarakat Islam. Pada masa Rasulullah SAW dan para sahabat,secara umum kaum muslimin hidup dalam keadaan sederhana. Ketika Bani Umayyah memegang tampuk kekuasaan,hidup mewah mulai meracuni masyarakat, terutama terjadi di kalangan istana.Mu’awiyah bin Abi Sufyan sebagai khalifah tampak semakin jauh dari tradisi kehidupan Nabi SAW serta sahabat utama dan semakin dekat dengan tradisi kehidupan raja-raja Romawi. Kemudian anaknya,Yazid (memerintah 61 H/680 M – 64 H/683M), dalam sejarah dikenal sebagai seorang pemabuk. Dalam situasi demikian kaum muslimin yang saleh merasa berkewajiban menyerukan kepada masyarakat untuk hidup zuhud, sederhana, saleh,dan tidak tenggelam dalam buaian hawa nafsu. Diantara para penyeru tersebut ialah Abu Dzar al-Ghiffari. Dia melancarkan kritik tajam kepada Bani Umayyah yang sedang tenggelam dalam kemewahan dan menyerukan agar diterapkan keadilan sosial dalam Islam.

Dari perubahan-perubahan kondisi sosial tersebut sebagian masyarakat mulai melihat kembali pada kesederhanaan kehidupan Nabi SAW dan para sahabatnya. Mereka mulai merenggangkan diri dari kehidupan mewah. Sejak saat itu kehidupan zuhud menyebar luas dikalangan masyarakat. Para pelaku zuhud itu disebut zahid (jamak : zuhhad) atau karena ketekunan mereka beribadah, maka disebut abid (jamak : abidin atau ubbad) atau nasik (jamak : nussak).
Seorang penulis dari madzhab Maliki, Abdul Wahab Alsharani mendefinisikan Sufisme sebagai berikut: “Jalan para sufi dibangun dari Quran dan sunnah, dan didasarkan kepada cara hidup berdasarkan moral para nabi dan yang tersucikan. Tidak bisa disalahkan, kecuali apabila melanggar pernyataan eksplisit dari Quran, sunnah dan ijma.”

v SEBAB DINAMAKANNYA TASAWUF
Al-Qusyairi di dalam Al- Risalah al-Qusyairiyyah, mengatakan bahwa para generasi pertama ( sahabat ) dan sesudahnya (tabi’in ) mereka lebih menyukai dan merasakannya sebagai penghormatan apabila mereka disebut sebagai sahabat. Pada saat itu istilah-istilah seperti ‘abid, zahid dan sufi belumlah dikenal dan belum populer bila dibandingkan dengan masa setelahnya. Dengan demikian, istilah-istilah seperti ‘abid, zahid dan kemudian sufi, yang digunakan untuk para ahli ibadah, baru dikenal setelah generasi sahabat dan tabi’in ini. Tentang asal kata Tasawwuf, yang berasal dari kata sufi, terdapat beberapa pendapat yang berbeda. Diantaranya ada yang menganggap bahwa secara lahiriah sebutan tersebut hanya semacam gelar, sebab dalam bahasa Arab tidak terdapat akar katanya. “Menurut sejarah,orang yang pertama memakai kata sufi adalah seorang zahid atau asketik bernama Abu Hasyim Al-kufi di Irak. Terdapat lima teori mengenai asal kata sufi , teori-teori berikut selalu dikemukakan oleh para penulis tasawuf, yaitu :
1.      Kata Tasawwuf adalah bahasa Arab dari kata suf yang artinya bulu domba. Orang sufi biasanya memakai pakaian dari bulu domba yang kasar sebagai lambang kesederhanaan dan kesucian. Dalam sejarah disebutkan, bahwa orang yang pertama kali menggunakan kata sufi adalah seorang zahid yang bernama Abu Hasyim Al-Kufi di Irak (wafat tahun 150H).
2.      Ahl Al-Suffah, (أهل الصفة) yaitu orang-orang yang ikut hijrah dengannya dari Makkah ke Madinah yang karena kehilangan harta, mereka berada dalam keadaan miskin dan tak memiliki apa-apa. Mereka tinggal di serambi Mesjid Nabi dan tidur di atas batu dengan memakai pelana sebagai bantal. Pelana disebut suffah. Walaupun hidup miskin, Ahl Suffah berhati baik dan mulia. Gaya hidup mereka tidak mementingkan keduniaan yang bersifat materi, tetapi mementingkan keakhiratan yang bersifat rohani. Mereka miskin harta, tetapi kaya budi yang mulia. Itulah sifat-sifat kaum sufi.
3.      Shafi ( صافي)yaitu suci. Orang-orang sufi adalah orang-orang yang mesucikan dirinya dari hal-hal yang bersifat duniawi dan mereka lakukan melalui latihan yang berat dan lama. Dengan demikian mereka adalah orang-orang yang disucikan.
4.      Sophia, berasal dari bahasa Yunani, yang artinya hikmah atau filsafat. Jalan yang ditempuh oleh orang-orang sufi memiliki kesamaan dengan cara yang ditempuh oleh para Filosof. Mereka sama-sama mencari kebenaran yang berawal dari keraguan dan ketidakpuasan.
5.      Saf ( صف)sebagaimana halnya orang yang shalat pada Saf pertama mendapatkan kemuliaan dan pahala yang utama, demikian pula orang-orang sufi dimuliakan Allah dan mendapat pahala, karena dalam shalat jamaah mereka mengambil Saf yang pertama.

3.      FAKTOR-FAKTOR PENDORONG LAHIRNYA TASAWUF
Dilihat  dari segi historis tasawuf, menurut kalangan peneliti yang menjadi faktor penyebab lahirnya ajaran tasawuf antara lain:
1.      Karena adanya “pious opposition” (oposisi yang bermuatan kesalehan) dari sekelompok umat Islam terhadap praktek-praktek regementer pemerintahan Bani Umayyah di Damaskus.
2.      Karena ada sekelompok (para sahabat) yang selalu ingin meniru seperti budi pekerti Rasulullah SAW, khususnya Khulafah Ar- Rasyidin.

Menurut Prof. Dr. H. Asamaran As, MA dalam buku beliau Pengantar Studi Tasawuf, Asal-asul dan Motivasi Lahirnya Tasawuf adalah:
1.      Beberapa asumsi orang yang melatar belakangi lahirnya tasawuf dalam Islam seperti adanya unsur kristen, teori filsafat, unsur India, unsur Persia.
2.      Ayat-ayat Alquran yang dijadikan landasan maqamat dan ahwal dalam tasawuf.
3.      Kehidupan dan sabda Rasulullah SAW.
4.      Kehidupan dan ucapan Sahabat dan Tabi’in.
5.      Dari gerakan zuhud menjadi tasawuf.



4.      SUMBER-SUMBER TASAWUF
Sebagaimana layaknya ilmu tauhid, ilmu fiqih, ilmu akhlak, ilmu kalam, ulumul Quran, ulumul hadist dan ilmu-ilmu lain dalam Islam yang penamaannya baru muncul setelah Rasul wafat, demikian juga dengan ilmu tasawuf. Eksis tensi namanya baru dikenal jauh setelah Rasul wafat. Namun esensis ilmu Tasawuf sesungguhnya bersumber dari Allah SWT, rasul, ijma’ sufi, ijtihad sufi, dan qiyas sufi.
1.      Allah SWT
Allah SWT merupakan Zat sumber ilmu tasawuf, tidak ada seorangpun yang mamapu menciptakan ilmu tasawuf dari selain Allah SWT. Namun Allah SWT mengajarkan secercah ilmu-Nya kepada para sufi lewat hidayah (ilham) baik langsung maupun dengan perantara lain yang Allah SWT kehendaki. Ada kalanya melalui Alquran dengan metode iqroul Quran (membaca, menyimak, menganalisa isi kandungan Alquran), ada pula melalui alam dengan cara perenungan sufi dan lain sebagainya yang pada intinya merupakan hidayah dari Allah SWT, kenudian berwujud menjadi ide tercerahkan dalam nuansa pemikiran dan keyakinan terhujam di hati untuk di manifestasikan dalam realita kehidupan nyata sebagai bentuk pengabdian diri kepada Allah SWT.
2.      Rasul
Rasul merupakan sumber kedua setelah Allah SWT bagi para sufi dalam mendalami dan mengembangkan ilmunya. Sebab, hanya kepada Rasul sajalah Allah SWT menitipkan wahyu-Nya. Tentulah Rasul pula yang lebih banyak tahu tentang sesuatu yang tersirat di balik yang tersurat dalam Alquran. Semua keterangan tersebut hanya ada di hadis Rasulullah, maka sumber ilmu tasawuf yang kedua adalah hadis (sunah Rasul).
3.      Pengalaman Sahabat
Setelah merujuk kepada referensi Alquran dan hadis, referensi selanjutnya bagi aktivtas tasawuf adalah pengetahuan dan tindakan para pengikut setia Rasulullah Muhammad SAW. Pengalaman spiritual yang diperolehnya sebagai penunjang semuanya itu.
4.      Ijma Sufi
Ijma Sufi (kesepakatan antara ulama tasawuf) merupakan esensi yang sangat penting dalam ilmu tasawuf. Karenanya mereka dijadikan sumber yang ketiga dalam ilmu tasawuf setelah Alquran dan hadis.
5.      Ijtihad Sufi
Dalam kesendiriaanya, para sufi banyak menghadapi pengalaman aneh, pengalaman itu merupakan guru terbaik, namun Allah SWT akal untuk berfikir semaksimal mungkin sebagai alat pembeda antara kepositifan dengan kenegatifan dalam pengalaman.

6.      Qiyas Sufi
Qiyas merupakan penghantar sufi untuk dapat berijtihad secara mandiri jika sedang terpisah jika dari sahabatnya.
7.      Nurani Sufi
Setiap sufi positif, memiliki nurani yang tajam di hatinya, ada yang menyebutnya dengan istilah firasat, rasa, radar batin dan sebagainya merupakan anugerah Allah SWT terhadap kaum sufi, bias dari keikhlasan, kesabaran dan ketawaqalanya dalam beribadah kepada Allah SWT tanpa kenal lelah.
8.      Amalan Sufi
Kaum sufi memegang teguh tradisi rahasia (menyembunyikan) nurani dan amalianya, karena jika kedua hal tersebut diketahui umum dapat menimbulkan kesalah fahaman, hal ini disebabkan dimensi tariqat (perjalanan) sufi merupakan dimensi batin (roh, rohani, jiwa, sesuatu esensi tersembunyi, gaib) yang tidak semua orang mampu menjalaninya, namun para sufi amat merindukannya disebabkan semata karena cinta kepada-Nya.

v DASAR-DASAR TASAWUF
Diantara ayat-ayata Alquran yang menjadi landasan munculnya kezuhudan  dan  menjadi jalan kesufian adalah ayat-ayat yang berbicara tentang rasa takut kepada Allah SWT dan hanya berharap kepada-Nya dan berusaha mensucikan jiwa (QS Assajada : 16, QS Asysyams : 7-10)
تَتَجَافَى جُنُوْبُهُمْ عَنِ المَضَاجِعِ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْناهُمْ يُنْفِقُوْنَ{16}
lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa-apa rezki yang kami berikan.” (QS As Sajadah :16)
وَنَفْسٍ وَمَاسَوَّىها{}َ فَأَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَاوَتَقْوَاىها{} قَدْأَفْلَحَمَنْزَكَّىها{}َ وَقَدْخَابَمَنْ دَسَّىها{}
7.Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), 8.maka Allah SWT mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, 9. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, 10. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (QS Asy syams : 7-10)

Ayat yang berkenaan dengan kewajban seorang mukmin untuk senantiasa bertawakal dan berserah diri hanya kepada Allah SWT semata serta mencukupkan bagi dirinya cukup Allah SWT tempat menggantungkan segala urusan.(QS At Thalaq : 2-3)
مَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الْأخِر. وَمَنْ يَتَقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ, مَخْرَجًا{} وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ. وَمَنْ يَتَوَكَّلْ
 عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ,~ إِنَّ اللهَ بَىلغُ أَمْرِهِ. قَدْخَعَ اللهُ لِكُلِّ شَىءٍقَدرًا{}
2.Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah SWT. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah SWT niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar, 3. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.
Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah SWT melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.

Ayat yang berkenaan dengan urgensi kezuhudan dalam kehidupan dunia (QS Asy Syura : 20)
مَنْ كَانَ يُرِيْدُ حَرْثَ الْأَخِرَةِ نَزِدْلَهُ, فِى حَرْثِهِ, وَمَنْ كَانَ يُرِيْدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤتِهِ, مِنْهَا وَمَا لَهُ, فِي اْلأَخِرَةِمِنْ نَصِيْبٍ{}
20. Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.

Dan ayat-ayat yang memerintahkan orang-orang beriman agar senantiasa berbekal untuk akhirat. (QS Al Hadid : 20)
آعْلَمُوا أَنَّمَا الحَيَوَاةُ الدُّنْيَا لَعِبُ وَلَهْوُ وَزِيْنَةُ وَتَفَا خُرُ بَيْنَكُمْ وَتَكَاُثُرُفِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَىدِ, كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ
الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ, ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرَاىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَىمًا, وَفِى اْلأَخِرَةِعَذَبُ شَدِيْدُ وَمَغْفِرَةُ مِنَ اللهِ وَرِضْوَانُ.
 وَمَا الحَيَوَاةِ الدُنْيَآ إِلَّا مَتَىعُ الغُرُوْرِ{}
20. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.

Ajaran tentang kesatuan spiritual yang bisa dicapai dengan suatu perjalanan spiritual memang tak ada dalam ayat apapun dalam Alquran. Tetapi, secara jelas hal itu diungkapkan dalam sebuah hadis qudsi, “seorang hamba terus-menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan melakukan ibadah nawafil hingga ketika aku mencintainya, Aku menjadi pendengaran yang dengannya ia mendengar, penglihatan yang dengan itu ia melihat, lidah yang dengannya ia berbicara, dan tangan dengannya ia memegang.”
Tentang kwalitas dan kwantitas ibadah Rasulullah, Aisyah r.a pernah berkata :
“sesungguhnya Nabi SAW bangun di tengah malam (untuk melaksanakan shalat) sehingga kedua telapak kakinya menjadi lecet. Saya berkata kepadanya: “wahai Rasulullah mengapa anda masih berbuat seperti ini, padahal Allah SWT  telah mengampuni dosa-dosa yang telah lalu dan yang akan datang bagimu?” Nabi SAW, lalu menjawab: “salahkah aku jika ingin menjadi seorang hamba yang selalu bersyukur”

5.      CIRI-CIRI  ATAU KARAKTERISTIK AJARAN TASAWUF
1.      Peningkatan moral, Setiap tasawuf atau mistisisme memiliki moral tertentu yang tujuannya untuk membersihkan jiwa, untuk perealisasian nilai-nilai itu. Dengan sendirinya, hal ini memerlukan latihan-latihan fisik-fisik tersendiri, serta pengkekangan diri dari matrealisme duniawi, dan lain-lain.
2.      Pemenuhan fana (sirna) dalam realitas mutlak. Inilah ciri khas tasawuf atau mistisisme dalam pengertiannya yang sungguh terkaji, yang dimaksud fana adalah bahwa dengan latihan fisik serta piskis yang di tempuhnya, akhirnya seorang sufi atau mistikus sampai pada kondisi psikis tertentu, dimana dia tak lagi merasakan adanya diri atau keakuannya. Bahkan dia merasa kekal-abadi dalam Realitas Yang Tertinggi. Lebih jauh lagi dia talah meleburkan kehendaknya bagi Kehandak Yang Mutlak. Dari sebab inilah sebagai sufi ataupun mistikus berkeyakinan tantang dapat terjadinya persatuan dengan Realitas Yang Tertinggi itu, atau Yang Mutlak tersebut berada dalam  diri mereka. Dengan kata lain, wujud hanya satu, dan bukannya sama-sekali berbilang banyak . namun sebagi sufi  atau mistikus lainya tidak manyatakan pendapat begitu, yakni tentang  penyatuan, hulul, atau keunggalan wujud. Sebaliknya, sekembali dari kesirnaan (fana), mereka justru mengokohkan adanya dualitas atau pluralitas wujud.
3.      Pengetahuan intuitip langsung. Ini adalah  norma terkaji epistemologis, yang membedakan tasawuf atau mistisisme dari pada filsafat. Apabila dengan filsafat, yang dalam memahami realitas seseorang mempergunakan metode-metode intekektual, maka dia disebut seorang filosof. Sementara, kalau dia berkeyakinan atas terdapatnya metode yang lain bagi pemahaman hakekat realitas di sebalik persepsi indrawi dan penawaran intelektual, yang disebut dengan rasyf atau intuisi atau sebutan-sebutan serupa lainnya, maka dalam kondisi begini dia disebut sebagai sufi ataupun mistikus dalam pengertiannya yang lengkap. Intuisi, menurut para sufi ataupun mistikus, bagaikan sinar kilat yang muncul dan perginya selalu tiba- tiba.
4.      Ketentraman atau kebahagiaan. Ini merupakan karakteristik khusus pada semua bentuk tasawuf atau mistisisme. Sebab, tasawuf atau mistisisme diniatkan sebagai penunjuk atau pengendali berbagai dorongan hawa-nafsu, serta pembangkit keseimbangan psikis pada diri seorang sufi ataupun mistikus tersebut terbebas dari semua rasa takut dan merasa intens dan ketentraman jiwa, serta kebahagiaan dirinyapun terwujudkan. Selain itu sebagai sufi ataupun mistikus telah menyatakan, bahwa pemenuhan fana dalam Yang Mutlak dan pengetahuan mengenai-nya justru membangkitkan suatu kebahagiaan pada diri seorang manusia, yang mustahil dapat diuraikan dengan kata-kata.
5.      Penggunaan simbol dalam ungkapan-ungkapan. Yang dimaksud dengan penggunaan simbol ialah bahwa ungkapan-ungkapan yang dipergunakan para sufi ataupun mistikus itu biasanya mengandung dua pengertian. Pertama, pengertian yang ditimba dari harafiah kata-kata. Kedua, pengertian yang ditimba dari analisa serta pendalaman. Pengertian yang kedua ini hampir sempurna tertutup bagi yang bukan sufi ataupun mistikus; dan sulit baginya untuk dapat memahami ucapan sufi ataupun mistikus,
apalagi untuk dapat memahami maksud tujuan mereka. Sebab, tasawuf atau mistisisme adalah kondisi-kondisi efektif yang khusus, yang mustahil dapat diungkapkan dengan kata-kata. Dan ia pun bukan merupakan kondisi yang sama pada semua orang. Setiap sufi ataupun mistikus punya cara sendiri dalam mengungkapkan kondisi-kondisi yang dialaminya. Dengan demikian, tasawuf atau mustisisme dekat dengan seni. Khusus para penempuhnya, dalam menguraikan kondisi yang mereka alami, mempergunakan intropeksi sebagai landasan. Jelas, hikmah kehidupan yang seperti begini sulit untuk dipahami orang-orang lain. Dari inilah mengapa tasawuf atau mistisisme diberi atribut dengan simbolisme.

6.      POKOK-POKOK AJARAN TASAWUF
1.      Tasawuf Akhlak
Pada tahap awal memasuki kehidupan tasawuf, seorang murid diharuskan melakukan suatu amalan dan latihan kerohanian yang cukup baik, tujuannya adalah untuk menguasai hawa nafsu, untuk menekan hawa nafsu sampai ke titik terendah, sistem pembinaan akhlak itu mereka (M. Hamidullah :120) susun sebagai berikut :
a.      Takhalli: membersihkan diri dari sifat2 tercela
b.      Tahalli: mengisi diri dengan sifat2 terpuji
c.      Tajalli: terungkapnya nur gaib untuk hati
d.      Munajat: melaporkan aktivitas diri pada Allah
e.      Muraqabah dan muhasabah: selalu memperhatikan dan diperhatikan Allah dan menghitung amal
f.       Memperbanyak wirid dan zikr
g.      Mengingat mati
h.      Tafakkur: merenung/meditasi
2.      Tasawuf Amali
Hasrat mendekatkan diri kepada Allah adalah tujuan pokok dari sufi dan keinginan yang manusiawi, apabila dilihat dari tingkatan komunitas sufi terdapat beberapa istilah sebagai berikut :
a.      Beberapa Istilah praktis
1. Syari’ah: mengikuti hukum agama
2. Thariqah: perjalanan menuju Allah
3. Haqiqah: aspek batiah dari syari’ah
4. Ma’rifah: pengetahuan mengenai Tuhan melalui hati

b.      Jalan Mendekatkan diri kepada Allah
1. Maqamat: tahapan, tingkatan
a. Taubah: pembersihan diri dari dosa
b. Zuhd: sederhana dalam hal duniawi
c. Sabr: pengendalian diri
d. Tawakal: berserah diri sepenuhnya kepada Allah
e. Ridha: menerima qada dan qadar dengan rela
f. Mahabah: cinta kepada Allah
g. Ma’rifah: mengenal keesaan Tuhan

2. Ahwal: kondisi mental
a. Khauf: merasa takut kepada Allah
b. Raja': optimis terhadap karunia Allah
c. Syauq: rindu pada Allah
d. Uns: keterpusatan hanya kepada Allah
e. Yaqin: mantapnya pengetahuan tentang Allah

3.      Tasawuf Filsat
Dengan munculnya tipe perenungantasawuf maka pembahasan tasawuf-tasawuf itu sudah lebih bersifat filsafat. Karena pembahasannya meluas kearah metafisika, yaitu proses bersatunya manusia dengan Tuahan dan sekaligus membahas konsepsi manusia dan Tuahan. Di pihak lain menurut M. Mujeeb dalam bukunya The Indian Muslim, Chapter VI mengatakan bahwa, memecahkan persoalan ini harus dengan mengerahkan seluruh ekpresi manusia. Paham sufi yang senada dengan ittihad ini, yang terpenting adalah :
a.       Fana’ dan Baqa': lenyapnya kesadaran dan kekal
b.      Ittihad: persatuan antara manusia dengan Tuhan
c.       Hulul: penyatuan sifat ketuhanan dg sifat kemanusiaan
d.      Wahdah al-Wujud: alam dan Allah adalah sesuatu yang satu
e.      Isyraq: pancaran cahaya atau iluminasi.

7.      SYARAT BELAJAR TASAWUF
Ada syarat-syarat yang wajib dipenuhi oleh seseorang yang ingin belajar tasawuf, di antaranya :
1.      Zahid, yaitu meninggalkan suatu hal yang berlebihan dan tetap mengutamakan yang halal.
2.      Keyakinan kepada Allah dan Rasul, seseorang yang belajar tentang ilmu kebatinan, diwajibkan untuk selalu yakin terhadap Allah dan Rasulnya. Dengan suatu keyakinan yang kuat akan menjadi pegangan dalam hidupnya. Seseorang yang yakin akan Allah dan Rasul, tidak akan pernah berpaling, matanya hanya digunakan untuk menuju ke jalan Allah, telinganya hanya digunakan untuk mendengar kalam Allah dan Rasulnya, sedangkan lidahnya akan selalu digunakan untuk berdzikir, yaitu selalu menyebut asma Allah SWT.
3.      Ilmu, selalu mempelajari dan mengamalkan ilmu tentang syariat, yang di dalamnya terdapat hal-hal yang dapat memperbaiki dzohirnya.
4.      Tawaqal, seseorang yang bertawaqal berarti dia senantiasa, mengisi hari-harinya untuk mengingat Allah SWT semata dan selalu bergantung dengan Allah SWT. Selalu menyadari bahwa hanya Allah yang sayang kepadanya melebihi kasih sayang diri sendiri dan orangtua.
5.      Taubat, selalu bertaubat dan senantiasa memohan ampun kepada Allah SWT.
6.      Takut (Khauf), selalu takut dan patuh kepada perintah Allah SWT, yaitu dengan menjauhi segala larangan dan menjalani segala yang diperintahkan-Nya.
7.      Sabar, selalu sabar akan setiap cobaan yang diberikan oleh Allah SWT dan selalu menahan diri untuk tidak berkeluh kesah atas segala ujian yang di berikan Allah kepadanya.
8.      Ikhlas, selalu menjalani ibadah dengan rasa ikhlas yang tulus dan semata-mata hanya karna Allah SWT.
9.      Ridha, ridha merupakan rasa mau menerima dengan senang hati atas segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT.
10. Selalu mengingat mati, seseorang yang selalu mengingat kematian, maka dia akan selalu bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah SWT dan selalu beramal kebaijan.
11. Kasih Sayang (mahabbah), selalu ingat kepada Allah SWT dan selalu bersungguh-sungguh dalam menjalankan perintahnya dan menjauhi segala larangan-Nya.

v MANFAAT MEMPELAJARI TASAWUF
Terdapat beberapa manfaat mempelajari tasawuf, berikut adalah beberapa manfaat dari mempelajari ilmu tasawuf :
1.      Seseorang yang mempelajari ilmu kebatinan dapat membersihkan hatinya.
2.      Seseorang akan memiliki sifat yang baik dan berjawa dermawan.
3.      Hati seseorang akan menjadi tenang dan damai.
4.      Dapat mengetahui alam yang goib, yaitu alam yang tidak bisa diketahui oleh mata telanjang dan hanya mata batin yang bisa melihatnya.
5.      Seseorang akan memiliki budi pekerti yang baij dengan sesama.








BAB III
PENUTUP


SARAN
Untuk mempelajari ilmu Tasawuf ini sangatlah diperlukan kesungguhan, karena ajaran tasawuf dibutuhkan konsentrasi penuh agar tidak ada penyelewengan ajaran agama, yang disebabkan kurang faham ataupun salah dalam memahami ajaran tasawuf ini.

KESIMPULAN
Tasawuf merupakan salah satu bidang studi islam yang memusatkan perhatian pada pembersihan aspek rohani manusia yang selanjutnya dapat menimbulkan akhlak yang mulia. Pembersihan aspek rohani atau batin ini selanjutnya dikenal sebagai dimensi esoteric dari diri manusia. Melalui studi tasawuf ini seseorang dapat mengetahui tentang cara-cara melakukan pembersihan diri serta mengamalkannya secara benar. Dari pengetahuan ini diharapkan ia akan tampil sebagai sebagai orang yang pandai mengendalikan dirinya pada saat ia berinteraksi dengan orang lain, atau pada saat melakukan berbagai aktivitas dunia.
Sejak kehidupan Rasulullah SAW  tasawuf sudah dilakukan sebagai ilmu keislaman. Istilah tasawuf baru ada pada pertengahan abad III H yang dibawa oleh seorang zahid (acsetic) Abu Hasyim Al-Kufi dari Irak (w.150 H). Orang yang telah mempelajari tasawuf maka ia tidak akan tergiur dengan kemewahan dunia, ia akan senantiasa hidup sederhana.
Sejak berkembangnya agama Islam dan orang-orang Islam baru muncullah perebutan kekuasaan (politik), berbuat kezaliman, perubahan kondisi sosialpun terjadi. Dari perubahan-perubahan kondisi sosial tersebut sebagian masyarakat mulai melihat kembali pada kesederhanaan kehidupan Nabi SAW dan para sahabatnya. Mereka mulai merenggangkan diri dari kehidupan mewah. Sejak saat itu kehidupan zuhud menyebar luas dikalangan masyarakat. Para pelaku zuhud itu disebut zahid (jamak : zuhhad) atau karena ketekunan mereka beribadah, maka disebut abid (jamak : abidin atau ubbad) atau nasik (jamak : nussak).
Jalan para sufi dibangun dari Quran dan sunnah, dan didasarkan kepada cara hidup berdasarkan moral para nabi dan yang tersucikan. Tidak bisa disalahkan, kecuali apabila melanggar pernyataan eksplisit dari Quran, sunnah dan ijma, jadi Tasawuf lahir dari Alquran dan Hadis itu sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad dan Abdullah Mustafa Numsuk. Kesesatan Shufi-Tasawuf Ajaran Budha.(Jakarta: Pustaka As Sunnah,2013).

HAMKA, Tasauf Perkembangan dan Pemurniannya.Jakarta: Yayasan nurul Islam.1981.

Nata, Abuddin.2013.Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia.Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.

Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi Agama. 1981/1982.                                                     Pengantar Ilmu Tasawuf. Sumatera Utara: Institut Agama Islam Negeri.

Rahman, roli(ed). Bahan ajar Akhlak.mojokerto:cv.sinar mulia.2012

Internet


Komentar

Postingan populer dari blog ini

EKONOMI PANCASILA DAN EKONOMI KAPITALISME

Macam-macam kitab Hadis