SEJARAH KELAHIRAN TASAWUF
BAB II
PEMBAHASAN
1.
PENGERTIAN
TASAWUF
Menurut Bahasa Tasawuf adalah sebutan untuk mistisisme Islam. Dalam
pandangan etimologi, kata sufi mempunyai pengertian yang berbeda. Ada
teori yang mengatakan bahwa kata sufi berasal dari bahasa Arab yaitu suf,
yang berati wol. Pengertian ini merujuk kepada jubah dari wol
sederhana yang dikenakan oleh para pelakunya. Teori etimologis lain menyatakan
bahwa kata sufi berasal dari kata bahasa Arab yaitu safa, yang
berarti kemurnian, kesucian yakni penekanan pelakunya pada kemurnian
hati dan jiwa. Teori lain menyatakan bahwa etimologi dari sufi
berasal dari ashab al suffa atau ahl al suffa yang
dinisbahkan pada sekelompok muslim pada zaman Nabi yang menghabiskan waktu da
Masjid Madinah yang menempati beranda masjid dan mendedikasikan wkatunya
untuk berdoa.
Berdasarkan pengertian etimologi di atas tasawuf berarti
orang-orang yang tertarik kepada pengetahuan batin, oraang-orang yang tertarik
untuk menemukan suatu jalan atau praktik ke arah kesadaran dan pencarahan hati.
Menurut Istilah, Imam Junaidi dari Baghdad (w.910) mendefinisikan
Tasawuf sebagai mengambil setiap sifat mulia dan meninggalkan setiap sifat
rendah. Atau keluar dari budi perangai yang tercela dan masuk kepada
budi perangai yang terpuji. Syekh Abul Hasan Asysyadzili (w.1258), syekh
sufi besar dari Afrika Utara, mendefinisikan tasawuf sebagai praktik dan
latihan diri melalui cinta yang dalam dan ibadah ubtuk mengenbalikan diri
kepada jalan Tuhan. Sedangkan menurut Ibn Khaldun, tasawuf adalah semacam
ilmu syariyah yang timbul kemudian dalam Agama. Asalnya rtekun beribadah
dan memutuskan dengan segala selain Allah SWT, hanya menghadap kepada Allah SWT
semata. Menolak hiasa-hiasan dunia, serta membenci perkara-perkara yang selalu
memperdaya orang banyak, kelezatan harta-benda, dan kemegahan. Dan menyendiri
menuju jalan tuhan dalam khalwat dan ibadah.
Syekh Ahmad Zorruq (w.1494) dari Maroko mendefinisikan tasawuf
sebagai ilmu yang dengannya anda dapat memperbaiki hati dan menjadikanya
semata-mata bagi Allah SWT, dengan menggunakan pengetahuan Anda tentang jalan
Islam, khususnya fiqih dan pengetahuan yang berkaitan, untuk memperbaiki amal
Anda dan menjaganya dalam batas-batas syariat Islam agar kebijaksanaan menjadi
nyata.
Menurut Syekh Ibn Ajiba (w.1809), tasawuf sebagai suatu ilmu yang
dengannya Anda belajar bagaimana berprilaku supaya berada dalam kehadiran
Tuhan yang Maha ada melalui penyucian batin dan mempermanisnya dengan amal
baik. Syekh Asy Suyuthi mendefinisikan, Sufi sebagai orang yang
bersiteguh dalam kesucian kepada Allah SWT, dan berakhlak baik kepada makhluk.
Dari definisi tentang tasawuf di atas, jika diperhatikan dan
dipahami secara utuh, maka akan tampak selain berorientasi spiritual, tasawuf
juga berorientasi moral. Dan dapat disimpulkan pula, bahwa basis tasawuf
ialah penyucian hati dan penjagaanya dari setiap cedera, dan bahwa produk
akhirnya ialah hubungan yang benar dan harmonis antara manusia dan Allah SWT.
Jadi, sufi adalah orang yang telah dimampukan Allah SWT
untuk menyukan hati dan menegakkan hubunganya dengan Dia dan ciptaan-Nya dengan
melangkah pada jalan yang benar, sebagaimana dicontohkan dengan sebaik-baiknya
oleh Nabi Muhammad SAW.
2.
SEJARAH
KELAHIRAN TASAWUF
Awal mula timbulnya paham Tasawuf banyak
pendapat yang pro dan kontra mengenai asal-usul kelahiran ajaran tasawuf. Baik
dari segi pertama munculnya tasawuf darimana ataupun dari segi historis, apakah
ia berasal dari luar atau dari dalam agama islam sendiri. Berbagai sumber mengatakan bahwa
ilmu tasauf sangat lah membingungkan.
Munculnya tasawuf ada perbedaan pendapat
dari ulama, ada yang mengatakan Tasawuf munculnya dari Kuffah dan ada juga yang
mengatakan Tasawuf muncul dari Basrah
Ø Tasawuf
muncul dari Kuffah
Sebagian peneliti mengatakan bahwa
kata Tasawuf pertama kali muncul di Kufah, sebabnya adalah karena masyarakat
Kufah sangat terpengaruh oleh besarnya gelombang zuhud yang mereka lakukan
sebagai sikap penentang terhadap dinasti umawiyah, sehingga mereka menanggalkan
pakaian penentangan mereka dan mengenakan pakaian zuhud dan ruban.
Ø Tasawuf
muncul dari Basrah
Sebagian ulama yang lain mengatakan
bahwa tasawuf pertama kali muncul di Basrah. Karena di Basrah banyak terjadi
tindakan berlebih-lebihan didalam melakukan zuhud, ibadah, dan menunjukkan rasa
takut kepada Allah SWT yang tidak terdapat di negeri-negeri lain.
Dan berikut adalah salah satu perbedaan pendapat lahirnya Tasawuf dari segi
historis.
Ø Berikut
adalah salah satu pendapat yang mengatakan bahwa Tasawuf berasal dari luar
Islam
Karena tasawuf timbul dalam Islam
sesudah uamat Islam mempunyai kontak dengan agama Kristen, filsafat Yunani dan
agama Hindu dan Budha, muncullah anggapan bahwa aliran tasawuf lahir dalam
Islam atas pengaruh dari luar.
Ada yang mengatakan bahwa pengaruhnya
datang dari rahib-rahib Kristen yang mengasingkan diri untuk beribadat dan
mendekatkan diri kepada Tuhan di gurun pasir Arabia. Tempat mereka menjadi
orang yang perlu bantuan di padang yang gersang. Di siang hari, tempat mereka
menjadi tempat berteduh bagi orang yang kepanasan dan dimalam hari lampu mereka
menjadi petunjuk jalan bagi musafir. Rahib- rahib itu berhati baik, dan pemurah
serta suka menolong. Sufi juga mengasingkan diri dari dunia ramai, walaupun
untuk sementara, berhati baik, pemurah dan suka menolong.
Pengaruh filsafat Yunani dikatakan
berasal dari pemikiran mistik Pythagoras. Dalam filsafatnya, roh manusia adalah
suci dan berasal dari tempat suci, kemudian turun kedunia materi dan masuk
kedalam tubuh manusia yang bernafsu. Roh yang pada mulanya suci itu menjadi
tidak suci dan karena itu tidak dapat kembali ketempatnya semula yang suci.
Untuk itu ia harus menyucikan diri dengan memusatkan perhatian pada filsafat
tidak dapat kembali ke tempatnya semula yag suci. Untuk itu ia harus menyucikan
diri dengan memusatkan perhatian pada filsafat serta ilmu pengetahuan dan
melakuaka beberapa pantangan. Filasat sufi juga demikian. Roh yang masuk ke
dalam janin kandungan ibu berasal dari rohani yang suci, tetapi kemudian
dipengaruhi oleh hawa nafsu yang terdapat dalam tubuh manusia. Maka untuk
bertemu dengan Tuhan Yang Maha Suci, roh yang telah kotor utu dibersihkan dulu
melalui ibadat yang banyak. Hal ini sama dengan Pythagoras, dia ber[endapat
bahwa roh yang masuk kedalam tubuh manusia juga kotor dan tak dapat kembali
kepada Tuhan selama masih kotor. Ia akan teteap tinggal berusaha membersihkan
diri melaluo reinkarnasi. Kalau sudah bersih, ia dapat mendekatkan diri kepada
Tuhan sampai ketingkat bersatu bersatu dengan Dia di bumi ini.
Paham penyucian diri melalui
reinkarnasi tidak terdapat dalam ajaran tasawuf. Paham itu memang bertentangan
dengan ajaran Alquran, bahwa roh sesudah tubuh mati tidak akan kembali kepada
kehidupan serupa dibumi. Sesudah bercerai dengan tubuh, roh pergi ke alam
barzah menunggu hari perhitungan. Tetapi konsep plotinus tentang bersatunya roh
dengan Tuhan di dunia ini, memang terdapat dalam tasawuf Islam.
Dari agama Budha, pengaruhnya
dikatakan dari konsep Nirwana. Nirwana dapat dicapai dengan meningggalkan
dunia, memasuki hidup kontemplasi dan menghancurkan diri. Ajaran menghancurkan
diri untuk bersatu dengan Tuhan juga terdapat dalam Islam. Sedangkan pengaruh
dari agama Hindu dikatakan datang dari ajaran bersatunya Atman dengan Brahman melalui
kontemplasi dan menjauhi dunia materi. Dalam tasawuf terdapat pengalaman
ittihad, yaitu persatuan roh manusia dengan roh Tuhan.
Kita perlu mencatat, agama Hindu,
Budha, filsafay Yuanani dan agama Kristen datang lama sebelum Islam. Bahwa yang
kemudian datang dipengaruhi oleh yang datang terdahulu adalah suatu
kemungkinan. Tetapi pendat serupa ini memerlukan bukti-bukti historis. Dalam
kaitan ini timbul pertanyaan: sekiranya ajaran-ajaran tersebut di atas tidak
ada, tidakkah mungkin tasawuf muncul dari dalam diri Islam sendiri ?
Hakekat tasawuf kita adalah
mendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam ajaran Islam, Tuahan memang sangat dekat
dengan manusia. Dekatnya Tuhan kepada manusia disebutkan dalam Alquran dan
Hadis. QS Al Baqarah : 186 mengatakan yang artinya, “ jika hambaKu bertanya
kepadamu tentang Aku, maka Aku dekat dan menabulkan seruan orang yang memanggil
jika Aku dipanggil.”
Kaum sufi mengartikan doa
disini bukan berdoa, tetapi berseru, agar Tuhan mengabulkan seruannya untuk
melihat Tuhan dan berada dekat kepada-Nya. Denan kata lain, ia berseru agar
Tuhan membuka hijab dan menampakkan diri-Nya kepada yang berseru. Temtang
dekatnya Tuhan, digambarkan oleh QS Al Baqarah : 115 berikut, “Timur dan Barat
kepunyaan Tuhan, maka kemana saja kamu berpaling di situ ada wajah Tuhan.” Ayat
ini mengandung arti bahwa dimana saja Tuhan dapat dijumpai. Tuhan dekat dengan sufi
tak perlu lagi jauh, untuk menjumpainya. Hal yang sama dijelaskan dalam QS Qaf
: 16 dan QS Al Anfal : 17.
Di sini sufi melihat persatuan manusia
dengan Tuhan. Perbuatan manusia adalah perbuatan Tuhan. Bahwa Tuhan dekat bukan
hanya kepada manusia, tetapi kepada makhluk lain sebagaimna dijelaskan dalam
Hadis berikut, “Pada mulanya Aku adalah harta yang tersembunyi, kemudian Aku
ingin dikenal. Maka kuciptakan makhluk dan melalui mereka Aku-pun dikenal.”
Di
sini terdapat paham bahwa Tuhan dan makhluk bersatu, dan bukan manusia saja
yang bersatu dengan Tuhan. Kalau ayat-ayat di atas mengandung arti ittihad,
persatuan manusia dengan Tuhan, hadist terakhir ini mengandung konsep wahdat
al-wujud, kesatuan wujud makhluk dengan Tuhan.
Ø Pendapat
yang mengatakan bahwa Tasawuf berasal dari dalam agama Islam
Sebagian pendapat mengatakan bahwa paham tasawuf merupakan paham yang sudah
berkembang sebelum Nabi Muhammad menjadi Rasulullah. Dan orang-orang Islam baru di daerah Irak dan
Iran (sekitar abad 8 Masehi) yang sebelumnya merupakan orang-orang yang memeluk
agama non Islam atau menganut paham-paham tertentu. Meski sudah masuk Islam,
hidupnya tetap memelihara kesahajaan dan menjauhkan diri dari kemewahan dan
kesenangan keduniaan. Hal ini didorong oleh kesungguhannya untuk mengamalkan
ajarannya, yaitu dalam hidupannya sangat merendah-rendahkan diri dan
berhina-hina diri terhadap Tuhan. Mereka selalu mengenakan pakaian yang pada
waktu itu termasuk pakaian yang sangat sederhana, yaitu pakaian dari kulit
domba yang masih berbulu, sampai akhirnya dikenal sebagai semacam tanda bagi penganut-penganut
paham tersebut. Itulah sebabnya maka pahamnya kemudian disebut paham sufi,
sufisme atau paham tasawuf. Sementara itu, orang yang penganut paham
tersebut disebut orang sufi.
Sebagian pendapat lagi mengatakan bahwa asal-usul kelahiran ajaran tasawuf
berasal dari zaman Nabi Muhammad SAW. Berasal dari kata "beranda" (suffa),
dan pelakunya disebut dengan ahl al-suffa, seperti telah disebutkan
diatas. Mereka dianggap sebagai penanam benih paham tasawuf yang berasal dari
pengetahuan Nabi Muhammad.
Pendapat lain menyebutkan tasawuf muncul ketika pertikaian antar umatIslam di zaman Khalifah Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib, khususnya karena
faktor politik.Pertikaian antar umat
Islam karena faktor politik dan perebutan kekuasaan ini terus berlangsung
dimasa khalifah-khalifah sesudah Utsman dan Ali. Munculah masyarakat yang
bereaksi terhadap hal ini. Mereka menganggap bahwa politik dan kekuasaan
merupakan wilayah yang kotor dan busuk. Mereka melakukan gerakan ‘uzlah,
yaitu menarik diri dari hingar-bingar masalah duniawi yang seringkali menipu
dan menjerumuskan. Lalu munculah gerakan tasawuf yang di pelopori oleh Hasan Al-Bashri pada abad kedua Hijriyah. Kemudian diikuti oleh figur-figur lain
seperti Shafyan al-Tsauri dan Rabi’ah al-‘Adawiyah.
Pada dasarnya sejarah awal perkembangan tasawuf, sudah ada sejak zaman
kehidupan Nabi saw. Hal ini dapat dilihat bagaimana peristiwa dan prilaku
kehidupan Nabi saw. sebelum diangkat menjadi rasul. Beliau berhari-hari pernah
berkhalwat di Gua Hira’, terutama pada bulan ramadlan. Disana Nabi saw lebih
banyak berdzikir dan bertafakkur dalam rangka
untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pengasingan diri Nabi saw di Gua Hira’
inilah yang merupakan acuan utama para sufi dalam melakukan khalwat.
Dalam aspek lain dari sisi prikehidupan Nabi saw adalah diyakini merupakan
benih-benih timbulnya tasawuf, dimana dalam kehidupan sehari-hari Nabi
saw sangatlah sederhana, zuhud tak pernah terpesona oleh kemewahan duniawi.
Hal itu di kuatkan oleh salah satu do’a Nabi saw, beliau pernah memohon
yang artinya: “Wahai Allah, hidupkanlah aku dalam kemiskinan dan matikanlah aku
selaku orang miskin”. (HR. al-Tirmizi, Ibn Majah, dan al-Hakim).
Setelah
periode sahabat berlalu, muncul pula periode tabiin (sekitar abad ke I dan ke
II H). Pada masa itu kondisi sosial-politik sudah mulai berubah darimasa
sebelumnya. Konflik –konflik sosial politik yang bermula dari masa Usman bin
Affan berkepanjangan sampai masa-masa sesudahnya. Konflik politik tersebut
ternyata mempunyai dampak terhadap kehidupan beragama, yakni munculnya
kelompok-kelompok Bani Umayyah, Syiah, Khawarij, dan Murjiah.
Pada masa
kekuasaan Bani Umayyah, kehidupan politik berubah total. Dengan sistem
pemerintahan monarki, khalifah-khalifah Bani Umayyah secara bebas berbuat
kezaliman-kezaliman, terutama terhadap kelompok Syiah, yakni kelompok lawan
politiknya yang paling gencar menentangnya. Puncak kekejaman mereka terlihat
jelas pada peristiwa terbunuhnya Husein bin Ali bin Abi Thalib di Karbala.
Kasus pembunuhan itu ternyata mempunyai pengaruh yang besar dalam masyarakat
Islam ketika itu. Kekejaman Bani Umayyah yang tak henti-hentinya itu membuat
sekelompok penduduk Kufah merasa menyesal karena mereka telah mengkhianati
Husein dan memberikan dukungan kepada pihak yang melawan Husein. Mereka
menyebut kelompoknya itu dengan Tawwabun (kaum Tawabin). Untuk
membersihkan diri dari apa yang telah dilakukan, mereka mengisi kehidupan
sepenuhnya dengan beribadah. Gerakan kaumTawabin itu dipimpin oleh Mukhtar bin
Ubaid as-Saqafi yang terbunuh di Kufah pada tahun 68 H.
Disamping
gejolak politik yang berkepanjangan, perubahan kondisi sosialpun terjadi.halini
mempunyai pengaruh yang besar dalam pertumbuhan kehidupan beragama masyarakat
Islam. Pada masa Rasulullah SAW dan para sahabat,secara umum kaum muslimin
hidup dalam keadaan sederhana. Ketika Bani Umayyah memegang tampuk kekuasaan,hidup
mewah mulai meracuni masyarakat, terutama terjadi di kalangan istana.Mu’awiyah
bin Abi Sufyan sebagai khalifah tampak semakin jauh dari tradisi kehidupan Nabi
SAW serta sahabat utama dan semakin dekat dengan tradisi kehidupan raja-raja
Romawi. Kemudian anaknya,Yazid (memerintah 61 H/680 M – 64 H/683M), dalam
sejarah dikenal sebagai seorang pemabuk. Dalam situasi demikian kaum muslimin
yang saleh merasa berkewajiban menyerukan kepada masyarakat untuk hidup zuhud,
sederhana, saleh,dan tidak tenggelam dalam buaian hawa nafsu. Diantara para
penyeru tersebut ialah Abu Dzar al-Ghiffari. Dia melancarkan kritik tajam
kepada Bani Umayyah yang sedang tenggelam dalam kemewahan dan menyerukan agar
diterapkan keadilan sosial dalam Islam.
Dari perubahan-perubahan kondisi sosial tersebut sebagian
masyarakat mulai melihat kembali pada kesederhanaan kehidupan Nabi SAW dan para
sahabatnya. Mereka mulai merenggangkan diri dari kehidupan mewah. Sejak saat
itu kehidupan zuhud menyebar luas dikalangan masyarakat. Para pelaku zuhud
itu disebut zahid (jamak : zuhhad) atau karena ketekunan mereka
beribadah, maka disebut abid (jamak : abidin atau ubbad)
atau nasik (jamak : nussak).
Seorang penulis dari madzhab Maliki, Abdul Wahab Alsharani
mendefinisikan Sufisme sebagai berikut: “Jalan para sufi dibangun dari Quran
dan sunnah, dan didasarkan kepada cara hidup berdasarkan moral para nabi dan
yang tersucikan. Tidak bisa disalahkan, kecuali apabila melanggar pernyataan
eksplisit dari Quran, sunnah dan ijma.”
v SEBAB DINAMAKANNYA TASAWUF
Al-Qusyairi
di dalam Al- Risalah al-Qusyairiyyah, mengatakan bahwa para generasi pertama (
sahabat ) dan sesudahnya (tabi’in ) mereka lebih menyukai dan merasakannya
sebagai penghormatan apabila mereka disebut sebagai sahabat. Pada saat itu
istilah-istilah seperti ‘abid, zahid dan sufi belumlah dikenal
dan belum populer bila dibandingkan dengan masa setelahnya. Dengan demikian,
istilah-istilah seperti ‘abid, zahid dan kemudian sufi, yang
digunakan untuk para ahli ibadah, baru dikenal setelah generasi sahabat dan
tabi’in ini. Tentang asal kata Tasawwuf, yang berasal dari kata sufi,
terdapat beberapa pendapat yang berbeda. Diantaranya ada yang menganggap bahwa
secara lahiriah sebutan tersebut hanya semacam gelar, sebab dalam bahasa Arab
tidak terdapat akar katanya. “Menurut sejarah,orang yang pertama memakai kata sufi
adalah seorang zahid atau asketik bernama Abu Hasyim Al-kufi di Irak. Terdapat
lima teori mengenai asal kata sufi , teori-teori berikut selalu
dikemukakan oleh para penulis tasawuf, yaitu :
1.
Kata Tasawwuf adalah bahasa Arab
dari kata suf yang artinya bulu domba. Orang sufi biasanya memakai pakaian dari
bulu domba yang kasar sebagai lambang kesederhanaan dan kesucian. Dalam sejarah
disebutkan, bahwa orang yang pertama kali menggunakan kata sufi adalah seorang
zahid yang bernama Abu Hasyim Al-Kufi di Irak (wafat tahun 150H).
2.
Ahl Al-Suffah, (أهل الصفة) yaitu orang-orang yang ikut hijrah
dengannya dari Makkah ke Madinah yang karena kehilangan harta, mereka berada
dalam keadaan miskin dan tak memiliki apa-apa. Mereka tinggal di serambi Mesjid
Nabi dan tidur di atas batu dengan memakai pelana sebagai bantal. Pelana
disebut suffah. Walaupun hidup miskin, Ahl Suffah berhati baik dan mulia. Gaya
hidup mereka tidak mementingkan keduniaan yang bersifat materi, tetapi
mementingkan keakhiratan yang bersifat rohani. Mereka miskin harta, tetapi kaya
budi yang mulia. Itulah sifat-sifat kaum sufi.
3.
Shafi ( صافي)yaitu
suci. Orang-orang sufi adalah orang-orang yang mesucikan dirinya dari hal-hal
yang bersifat duniawi dan mereka lakukan melalui latihan yang berat dan lama.
Dengan demikian mereka adalah orang-orang yang disucikan.
4.
Sophia, berasal dari bahasa Yunani,
yang artinya hikmah atau filsafat. Jalan yang ditempuh oleh orang-orang sufi
memiliki kesamaan dengan cara yang ditempuh oleh para Filosof. Mereka sama-sama
mencari kebenaran yang berawal dari keraguan dan ketidakpuasan.
5.
Saf ( صف)sebagaimana
halnya orang yang shalat pada Saf pertama mendapatkan kemuliaan dan pahala yang
utama, demikian pula orang-orang sufi dimuliakan Allah dan mendapat pahala,
karena dalam shalat jamaah mereka mengambil Saf yang pertama.
3.
FAKTOR-FAKTOR PENDORONG LAHIRNYA TASAWUF
Dilihat dari segi historis tasawuf, menurut kalangan
peneliti yang menjadi faktor penyebab lahirnya ajaran tasawuf antara lain:
1.
Karena adanya “pious opposition”
(oposisi yang bermuatan kesalehan) dari sekelompok umat Islam terhadap
praktek-praktek regementer pemerintahan Bani Umayyah di Damaskus.
2.
Karena ada sekelompok (para sahabat)
yang selalu ingin meniru seperti budi pekerti Rasulullah SAW, khususnya Khulafah
Ar- Rasyidin.
Menurut Prof. Dr. H. Asamaran As, MA
dalam buku beliau Pengantar Studi Tasawuf, Asal-asul dan Motivasi Lahirnya Tasawuf
adalah:
1.
Beberapa asumsi orang yang melatar
belakangi lahirnya tasawuf dalam Islam seperti adanya unsur kristen, teori
filsafat, unsur India, unsur Persia.
2.
Ayat-ayat Alquran yang dijadikan
landasan maqamat dan ahwal dalam tasawuf.
3.
Kehidupan dan sabda Rasulullah SAW.
4.
Kehidupan dan ucapan Sahabat dan
Tabi’in.
5.
Dari gerakan zuhud menjadi tasawuf.
4.
SUMBER-SUMBER TASAWUF
Sebagaimana layaknya ilmu tauhid, ilmu
fiqih, ilmu akhlak, ilmu kalam, ulumul Quran, ulumul hadist dan ilmu-ilmu lain
dalam Islam yang penamaannya baru muncul setelah Rasul wafat, demikian juga
dengan ilmu tasawuf. Eksis tensi namanya baru dikenal jauh setelah Rasul wafat.
Namun esensis ilmu Tasawuf sesungguhnya bersumber dari Allah SWT, rasul, ijma’
sufi, ijtihad sufi, dan qiyas sufi.
1.
Allah SWT
Allah SWT merupakan Zat sumber ilmu tasawuf, tidak ada
seorangpun yang mamapu menciptakan ilmu tasawuf dari selain Allah SWT. Namun
Allah SWT mengajarkan secercah ilmu-Nya kepada para sufi lewat hidayah (ilham)
baik langsung maupun dengan perantara lain yang Allah SWT kehendaki. Ada
kalanya melalui Alquran dengan metode iqroul Quran (membaca, menyimak,
menganalisa isi kandungan Alquran), ada pula melalui alam dengan cara
perenungan sufi dan lain sebagainya yang pada intinya merupakan hidayah dari
Allah SWT, kenudian berwujud menjadi ide tercerahkan dalam nuansa pemikiran dan
keyakinan terhujam di hati untuk di manifestasikan dalam realita kehidupan
nyata sebagai bentuk pengabdian diri kepada Allah SWT.
2.
Rasul
Rasul merupakan sumber kedua setelah Allah SWT bagi para sufi
dalam mendalami dan mengembangkan ilmunya. Sebab, hanya kepada Rasul sajalah
Allah SWT menitipkan wahyu-Nya. Tentulah Rasul pula yang lebih banyak tahu
tentang sesuatu yang tersirat di balik yang tersurat dalam Alquran. Semua
keterangan tersebut hanya ada di hadis Rasulullah, maka sumber ilmu tasawuf
yang kedua adalah hadis (sunah Rasul).
3.
Pengalaman Sahabat
Setelah merujuk kepada referensi Alquran dan hadis, referensi
selanjutnya bagi aktivtas tasawuf adalah pengetahuan dan tindakan para pengikut
setia Rasulullah Muhammad SAW. Pengalaman spiritual yang diperolehnya sebagai
penunjang semuanya itu.
4.
Ijma Sufi
Ijma Sufi (kesepakatan antara ulama tasawuf) merupakan esensi yang
sangat penting dalam ilmu tasawuf. Karenanya mereka dijadikan sumber yang
ketiga dalam ilmu tasawuf setelah Alquran dan hadis.
5.
Ijtihad Sufi
Dalam kesendiriaanya, para sufi banyak menghadapi pengalaman
aneh, pengalaman itu merupakan guru terbaik, namun Allah SWT akal untuk
berfikir semaksimal mungkin sebagai alat pembeda antara kepositifan dengan
kenegatifan dalam pengalaman.
6.
Qiyas Sufi
Qiyas merupakan penghantar sufi untuk dapat berijtihad secara
mandiri jika sedang terpisah jika dari sahabatnya.
7.
Nurani Sufi
Setiap sufi positif, memiliki nurani yang tajam di hatinya,
ada yang menyebutnya dengan istilah firasat, rasa, radar batin dan sebagainya
merupakan anugerah Allah SWT terhadap kaum sufi, bias dari keikhlasan,
kesabaran dan ketawaqalanya dalam beribadah kepada Allah SWT tanpa kenal lelah.
8.
Amalan Sufi
Kaum sufi memegang teguh tradisi rahasia (menyembunyikan)
nurani dan amalianya, karena jika kedua hal tersebut diketahui umum dapat
menimbulkan kesalah fahaman, hal ini disebabkan dimensi tariqat (perjalanan)
sufi merupakan dimensi batin (roh, rohani, jiwa, sesuatu esensi tersembunyi,
gaib) yang tidak semua orang mampu menjalaninya, namun para sufi amat
merindukannya disebabkan semata karena cinta kepada-Nya.
v DASAR-DASAR TASAWUF
Diantara ayat-ayata Alquran yang
menjadi landasan munculnya kezuhudan
dan menjadi jalan kesufian adalah
ayat-ayat yang berbicara tentang rasa takut kepada Allah SWT dan hanya berharap
kepada-Nya dan berusaha mensucikan jiwa (QS Assajada : 16, QS Asysyams : 7-10)
تَتَجَافَى جُنُوْبُهُمْ عَنِ المَضَاجِعِ
يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْناهُمْ يُنْفِقُوْنَ{16}
“lambung mereka jauh dari tempat
tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada rabbnya dengan penuh rasa takut dan
harap, serta mereka menafkahkan apa-apa rezki yang kami berikan.” (QS As
Sajadah :16)
وَنَفْسٍ وَمَاسَوَّىها{}َ فَأَلْهَمَهَا
فُجُوْرَهَاوَتَقْوَاىها{} قَدْأَفْلَحَمَنْزَكَّىها{}َ
وَقَدْخَابَمَنْ دَسَّىها{}
7.Dan
jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), 8.maka Allah SWT mengilhamkan kepada
jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, 9. Sesungguhnya beruntunglah orang
yang mensucikan jiwa itu, 10. Dan sesungguhnya merugilah orang yang
mengotorinya. (QS Asy syams : 7-10)
Ayat
yang berkenaan dengan kewajban seorang mukmin untuk senantiasa bertawakal dan
berserah diri hanya kepada Allah SWT semata serta mencukupkan bagi dirinya
cukup Allah SWT tempat menggantungkan segala urusan.(QS At Thalaq : 2-3)
مَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الْأخِر.
وَمَنْ يَتَقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ, مَخْرَجًا{} وَيَرْزُقْهُ مِنْ
حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ. وَمَنْ يَتَوَكَّلْ
عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ,~ إِنَّ اللهَ
بَىلغُ أَمْرِهِ. قَدْخَعَ اللهُ لِكُلِّ شَىءٍقَدرًا{}
2.Apabila mereka telah mendekati akhir
iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik
dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu tegakkan
kesaksian itu karena Allah SWT. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang
yang beriman kepada Allah SWT niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar,
3. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.
Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan
mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah SWT melaksanakan urusan yang
(dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap
sesuatu.
Ayat
yang berkenaan dengan urgensi kezuhudan dalam kehidupan dunia (QS Asy Syura :
20)
مَنْ كَانَ يُرِيْدُ حَرْثَ الْأَخِرَةِ
نَزِدْلَهُ, فِى حَرْثِهِ, وَمَنْ كَانَ يُرِيْدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤتِهِ,
مِنْهَا وَمَا لَهُ, فِي اْلأَخِرَةِمِنْ نَصِيْبٍ{}
20. Barang siapa yang menghendaki
keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa
yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari
keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.
Dan
ayat-ayat yang memerintahkan orang-orang beriman agar senantiasa berbekal untuk
akhirat. (QS Al Hadid : 20)
آعْلَمُوا أَنَّمَا الحَيَوَاةُ الدُّنْيَا لَعِبُ
وَلَهْوُ وَزِيْنَةُ وَتَفَا خُرُ بَيْنَكُمْ وَتَكَاُثُرُفِي الْأَمْوَالِ
وَالْأَوْلَىدِ, كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ
الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ, ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرَاىهُ
مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَىمًا, وَفِى اْلأَخِرَةِعَذَبُ شَدِيْدُ
وَمَغْفِرَةُ مِنَ اللهِ وَرِضْوَانُ.
وَمَا الحَيَوَاةِ الدُنْيَآ إِلَّا مَتَىعُ
الغُرُوْرِ{}
20. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya
kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan
bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta
dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian
tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi
hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta
keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang
menipu.
Ajaran tentang kesatuan spiritual
yang bisa dicapai dengan suatu perjalanan spiritual memang tak ada dalam ayat
apapun dalam Alquran. Tetapi, secara jelas hal itu diungkapkan dalam sebuah
hadis qudsi, “seorang hamba terus-menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan
melakukan ibadah nawafil hingga ketika aku mencintainya, Aku menjadi
pendengaran yang dengannya ia mendengar, penglihatan yang dengan itu ia
melihat, lidah yang dengannya ia berbicara, dan tangan dengannya ia memegang.”
Tentang kwalitas dan kwantitas
ibadah Rasulullah, Aisyah r.a pernah berkata :
“sesungguhnya Nabi SAW bangun di
tengah malam (untuk melaksanakan shalat) sehingga kedua telapak kakinya menjadi
lecet. Saya berkata kepadanya: “wahai Rasulullah mengapa anda masih berbuat
seperti ini, padahal Allah SWT telah
mengampuni dosa-dosa yang telah lalu dan yang akan datang bagimu?” Nabi SAW,
lalu menjawab: “salahkah aku jika ingin menjadi seorang hamba yang selalu bersyukur”
5.
CIRI-CIRI ATAU KARAKTERISTIK AJARAN TASAWUF
1.
Peningkatan
moral, Setiap tasawuf atau mistisisme memiliki moral tertentu yang tujuannya
untuk membersihkan jiwa, untuk perealisasian nilai-nilai itu. Dengan
sendirinya, hal ini memerlukan latihan-latihan fisik-fisik tersendiri,
serta pengkekangan diri dari matrealisme duniawi, dan lain-lain.
2.
Pemenuhan fana (sirna)
dalam realitas mutlak. Inilah ciri khas tasawuf atau mistisisme dalam
pengertiannya yang sungguh terkaji, yang dimaksud fana adalah bahwa dengan
latihan fisik serta piskis yang di tempuhnya, akhirnya seorang sufi atau mistikus
sampai pada kondisi psikis tertentu, dimana dia tak lagi merasakan adanya diri
atau keakuannya. Bahkan dia merasa kekal-abadi dalam Realitas Yang Tertinggi.
Lebih jauh lagi dia talah meleburkan kehendaknya bagi Kehandak Yang Mutlak. Dari
sebab inilah sebagai sufi ataupun mistikus berkeyakinan tantang dapat
terjadinya persatuan dengan Realitas Yang Tertinggi itu, atau Yang Mutlak
tersebut berada dalam diri mereka. Dengan kata lain, wujud hanya satu,
dan bukannya sama-sekali berbilang banyak . namun sebagi sufi atau
mistikus lainya tidak manyatakan pendapat begitu, yakni tentang
penyatuan, hulul, atau keunggalan wujud. Sebaliknya, sekembali dari kesirnaan (fana),
mereka justru mengokohkan adanya dualitas atau pluralitas wujud.
3.
Pengetahuan
intuitip langsung. Ini adalah norma terkaji epistemologis, yang
membedakan tasawuf atau mistisisme dari pada filsafat. Apabila dengan filsafat,
yang dalam memahami realitas seseorang mempergunakan metode-metode intekektual,
maka dia disebut seorang filosof. Sementara, kalau dia berkeyakinan atas
terdapatnya metode yang lain bagi pemahaman hakekat realitas di sebalik
persepsi indrawi dan penawaran intelektual, yang disebut dengan rasyf
atau intuisi atau sebutan-sebutan serupa lainnya, maka dalam kondisi begini dia
disebut sebagai sufi ataupun mistikus dalam pengertiannya yang lengkap.
Intuisi, menurut para sufi ataupun mistikus, bagaikan sinar kilat yang muncul
dan perginya selalu tiba- tiba.
4.
Ketentraman
atau kebahagiaan. Ini merupakan karakteristik khusus pada semua bentuk tasawuf
atau mistisisme. Sebab, tasawuf atau mistisisme diniatkan sebagai penunjuk atau
pengendali berbagai dorongan hawa-nafsu, serta pembangkit keseimbangan psikis
pada diri seorang sufi ataupun mistikus tersebut terbebas dari semua rasa takut
dan merasa intens dan ketentraman jiwa, serta kebahagiaan dirinyapun
terwujudkan. Selain itu sebagai sufi ataupun mistikus telah menyatakan, bahwa
pemenuhan fana dalam Yang Mutlak dan pengetahuan mengenai-nya justru
membangkitkan suatu kebahagiaan pada diri seorang manusia, yang mustahil dapat
diuraikan dengan kata-kata.
5.
Penggunaan
simbol dalam ungkapan-ungkapan. Yang dimaksud dengan penggunaan simbol ialah
bahwa ungkapan-ungkapan yang dipergunakan para sufi ataupun mistikus itu
biasanya mengandung dua pengertian. Pertama, pengertian yang ditimba dari
harafiah kata-kata. Kedua, pengertian yang ditimba dari analisa serta
pendalaman. Pengertian yang kedua ini hampir sempurna tertutup bagi yang bukan
sufi ataupun mistikus; dan sulit baginya untuk dapat memahami ucapan sufi
ataupun mistikus,
apalagi
untuk dapat memahami maksud tujuan mereka. Sebab, tasawuf atau mistisisme
adalah kondisi-kondisi efektif yang khusus, yang mustahil dapat diungkapkan
dengan kata-kata. Dan ia pun bukan merupakan kondisi yang sama pada semua
orang. Setiap sufi ataupun mistikus punya cara sendiri dalam mengungkapkan
kondisi-kondisi yang dialaminya. Dengan demikian, tasawuf atau mustisisme dekat
dengan seni. Khusus para penempuhnya, dalam menguraikan kondisi yang mereka
alami, mempergunakan intropeksi sebagai landasan. Jelas, hikmah kehidupan yang
seperti begini sulit untuk dipahami orang-orang lain. Dari inilah mengapa
tasawuf atau mistisisme diberi atribut dengan simbolisme.
6. POKOK-POKOK AJARAN TASAWUF
1. Tasawuf Akhlak
Pada tahap awal memasuki
kehidupan tasawuf, seorang murid diharuskan melakukan suatu amalan dan latihan
kerohanian yang cukup baik, tujuannya adalah untuk menguasai hawa nafsu, untuk
menekan hawa nafsu sampai ke titik terendah, sistem pembinaan akhlak itu mereka
(M. Hamidullah :120) susun sebagai berikut :
a. Takhalli: membersihkan diri dari sifat2 tercela
b. Tahalli: mengisi diri dengan sifat2 terpuji
c. Tajalli: terungkapnya nur gaib untuk hati
d. Munajat: melaporkan aktivitas diri pada Allah
e. Muraqabah dan muhasabah: selalu memperhatikan dan diperhatikan
Allah dan menghitung amal
f. Memperbanyak wirid dan zikr
g. Mengingat mati
h. Tafakkur: merenung/meditasi
2. Tasawuf Amali
Hasrat mendekatkan diri
kepada Allah adalah tujuan pokok dari sufi dan keinginan yang manusiawi, apabila
dilihat dari tingkatan komunitas sufi terdapat beberapa istilah sebagai berikut
:
a.
Beberapa
Istilah praktis
1. Syari’ah: mengikuti hukum agama
2. Thariqah: perjalanan menuju Allah
3. Haqiqah: aspek batiah dari syari’ah
4. Ma’rifah: pengetahuan mengenai Tuhan melalui hati
1. Syari’ah: mengikuti hukum agama
2. Thariqah: perjalanan menuju Allah
3. Haqiqah: aspek batiah dari syari’ah
4. Ma’rifah: pengetahuan mengenai Tuhan melalui hati
b. Jalan Mendekatkan diri kepada Allah
1. Maqamat: tahapan, tingkatan
a. Taubah: pembersihan diri dari dosa
b. Zuhd: sederhana dalam hal duniawi
c. Sabr: pengendalian diri
d. Tawakal: berserah diri sepenuhnya kepada Allah
e. Ridha: menerima qada dan qadar dengan rela
1. Maqamat: tahapan, tingkatan
a. Taubah: pembersihan diri dari dosa
b. Zuhd: sederhana dalam hal duniawi
c. Sabr: pengendalian diri
d. Tawakal: berserah diri sepenuhnya kepada Allah
e. Ridha: menerima qada dan qadar dengan rela
f. Mahabah: cinta kepada Allah
g. Ma’rifah: mengenal keesaan Tuhan
g. Ma’rifah: mengenal keesaan Tuhan
2. Ahwal: kondisi mental
a. Khauf: merasa takut kepada Allah
b. Raja': optimis terhadap karunia Allah
c. Syauq: rindu pada Allah
d. Uns: keterpusatan hanya kepada Allah
e. Yaqin: mantapnya pengetahuan tentang Allah
3. Tasawuf Filsat
Dengan munculnya tipe perenungantasawuf maka pembahasan tasawuf-tasawuf itu
sudah lebih bersifat filsafat. Karena pembahasannya meluas kearah metafisika,
yaitu proses bersatunya manusia dengan Tuahan dan sekaligus membahas konsepsi
manusia dan Tuahan. Di pihak lain menurut M. Mujeeb dalam bukunya The Indian
Muslim, Chapter VI mengatakan bahwa, memecahkan persoalan ini harus dengan
mengerahkan seluruh ekpresi manusia. Paham sufi yang senada dengan ittihad ini,
yang terpenting adalah :
a.
Fana’
dan Baqa': lenyapnya kesadaran dan kekal
b.
Ittihad:
persatuan antara manusia dengan Tuhan
c.
Hulul:
penyatuan sifat ketuhanan dg sifat kemanusiaan
d.
Wahdah
al-Wujud: alam dan Allah adalah sesuatu yang satu
e.
Isyraq:
pancaran cahaya atau iluminasi.
7. SYARAT BELAJAR TASAWUF
Ada syarat-syarat yang wajib dipenuhi oleh seseorang yang ingin belajar
tasawuf, di antaranya :
1. Zahid, yaitu meninggalkan suatu hal yang berlebihan dan tetap mengutamakan
yang halal.
2. Keyakinan kepada Allah dan Rasul, seseorang yang belajar tentang ilmu
kebatinan, diwajibkan untuk selalu yakin terhadap Allah dan Rasulnya. Dengan
suatu keyakinan yang kuat akan menjadi pegangan dalam hidupnya. Seseorang yang
yakin akan Allah dan Rasul, tidak akan pernah berpaling, matanya hanya
digunakan untuk menuju ke jalan Allah, telinganya hanya digunakan untuk
mendengar kalam Allah dan Rasulnya, sedangkan lidahnya akan selalu digunakan
untuk berdzikir, yaitu selalu menyebut asma Allah SWT.
3. Ilmu, selalu mempelajari dan mengamalkan ilmu tentang syariat, yang di
dalamnya terdapat hal-hal yang dapat memperbaiki dzohirnya.
4. Tawaqal, seseorang yang bertawaqal berarti dia senantiasa, mengisi
hari-harinya untuk mengingat Allah SWT semata dan selalu bergantung dengan
Allah SWT. Selalu menyadari bahwa hanya Allah yang sayang kepadanya melebihi
kasih sayang diri sendiri dan orangtua.
5. Taubat, selalu bertaubat dan senantiasa memohan ampun kepada Allah SWT.
6. Takut (Khauf), selalu takut dan patuh kepada perintah Allah SWT, yaitu
dengan menjauhi segala larangan dan menjalani segala yang diperintahkan-Nya.
7. Sabar, selalu sabar akan setiap cobaan yang diberikan oleh Allah SWT dan
selalu menahan diri untuk tidak berkeluh kesah atas segala ujian yang di
berikan Allah kepadanya.
8. Ikhlas, selalu menjalani ibadah dengan rasa ikhlas yang tulus dan
semata-mata hanya karna Allah SWT.
9. Ridha, ridha merupakan rasa mau menerima dengan senang hati atas segala
nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT.
10. Selalu mengingat mati, seseorang yang selalu mengingat kematian, maka dia
akan selalu bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah SWT dan selalu
beramal kebaijan.
11. Kasih Sayang (mahabbah), selalu ingat kepada Allah SWT dan selalu
bersungguh-sungguh dalam menjalankan perintahnya dan menjauhi segala
larangan-Nya.
v MANFAAT MEMPELAJARI
TASAWUF
Terdapat beberapa manfaat mempelajari tasawuf, berikut adalah beberapa
manfaat dari mempelajari ilmu tasawuf :
1. Seseorang yang mempelajari ilmu kebatinan dapat membersihkan hatinya.
2. Seseorang akan memiliki sifat yang baik dan berjawa dermawan.
3. Hati seseorang akan menjadi tenang dan damai.
4. Dapat mengetahui alam yang goib, yaitu alam yang tidak bisa diketahui oleh
mata telanjang dan hanya mata batin yang bisa melihatnya.
5. Seseorang akan memiliki budi pekerti yang baij dengan sesama.
BAB III
PENUTUP
SARAN
Untuk mempelajari ilmu
Tasawuf ini sangatlah diperlukan kesungguhan, karena ajaran tasawuf dibutuhkan
konsentrasi penuh agar tidak ada penyelewengan ajaran agama, yang disebabkan
kurang faham ataupun salah dalam memahami ajaran tasawuf ini.
KESIMPULAN
Tasawuf merupakan salah satu bidang studi islam yang
memusatkan perhatian pada pembersihan aspek rohani manusia yang selanjutnya
dapat menimbulkan akhlak yang mulia. Pembersihan aspek rohani atau batin ini
selanjutnya dikenal sebagai dimensi esoteric dari diri manusia. Melalui studi
tasawuf ini seseorang dapat mengetahui tentang cara-cara melakukan pembersihan
diri serta mengamalkannya secara benar. Dari pengetahuan ini diharapkan ia akan
tampil sebagai sebagai orang yang pandai mengendalikan dirinya pada saat ia
berinteraksi dengan orang lain, atau pada saat melakukan berbagai aktivitas
dunia.
Sejak kehidupan Rasulullah SAW tasawuf sudah dilakukan sebagai ilmu
keislaman. Istilah tasawuf baru ada pada pertengahan abad III H yang dibawa
oleh seorang zahid (acsetic) Abu Hasyim Al-Kufi dari Irak (w.150 H). Orang yang
telah mempelajari tasawuf maka ia tidak akan tergiur dengan kemewahan dunia, ia
akan senantiasa hidup sederhana.
Sejak
berkembangnya agama Islam dan orang-orang Islam baru muncullah perebutan kekuasaan
(politik), berbuat kezaliman, perubahan kondisi sosialpun terjadi. Dari perubahan-perubahan kondisi sosial tersebut sebagian
masyarakat mulai melihat kembali pada kesederhanaan kehidupan Nabi SAW dan para
sahabatnya. Mereka mulai merenggangkan diri dari kehidupan mewah. Sejak saat
itu kehidupan zuhud menyebar luas dikalangan masyarakat. Para pelaku zuhud
itu disebut zahid (jamak : zuhhad) atau karena ketekunan mereka
beribadah, maka disebut abid (jamak : abidin atau ubbad)
atau nasik (jamak : nussak).
Jalan para sufi dibangun dari Quran dan sunnah, dan didasarkan
kepada cara hidup berdasarkan moral para nabi dan yang tersucikan. Tidak bisa
disalahkan, kecuali apabila melanggar pernyataan eksplisit dari Quran, sunnah
dan ijma, jadi
Tasawuf lahir dari Alquran dan Hadis itu sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad dan Abdullah
Mustafa Numsuk. Kesesatan Shufi-Tasawuf Ajaran Budha.(Jakarta: Pustaka
As Sunnah,2013).
HAMKA, Tasauf
Perkembangan dan Pemurniannya.Jakarta: Yayasan nurul Islam.1981.
Nata, Abuddin.2013.Akhlak
Tasawuf dan Karakter Mulia.Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Proyek Pembinaan
Perguruan Tinggi Agama. 1981/1982. Pengantar
Ilmu Tasawuf. Sumatera Utara: Institut Agama Islam Negeri.
Rahman, roli(ed). Bahan
ajar Akhlak.mojokerto:cv.sinar mulia.2012
Internet
Komentar